Bogor, Petrominer — Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak Gas dan Panas Bumi Indonesia (APMI) mendesak para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas untuk segera membayar hutang kepada para anggotanya. Desakan itu disampaikan APMI ketika mendeklarasikan piutang para anggota APMI, Jum’at (4/11).

“Dekelarasi ini bertujuan agar Pemerintah, KKKS dan semua stakeholder yang terkait memperhatikan dengan serius permasalahan ini. Pasalnya, masalah ini berkaitan dengan banyak pihak termasuk nasib para pekerja,” ujar Ketua Umum APMI, Wargono Soenarko, di sela acara deklarasi tersebut.

Wargono menjelaskan, berdasarkan laporan resmi yang telah diterima dari anggota APMI, saat ini hutang KKKS mencapai US$ 50 juta. Namun, hutang yang terindikasi dan belum menjadi laporan resmi dari anggota APMI bisa mencapai US$ 300 juta.

Menurutnya, alasan sebagian anggota APMI yang belum berani menyampaikan data tersebut adalah adanya proses penagihan yang belum final angkanya dan tidak menutup kemungkinan adanya kekhawatiran apabila perusahaanya di kemudian hari dikenai sanksi dan di black list dari administrasi KKKS yang memberi kerja.

Parahnya, ada beberapa KKKS yang berhutang sepertinya tak ada niatan baik untuk membayarkan kewajibannya. Malahan, ada hutang yang telah lewat jatuh tempo dan bahkan invoicenya sampai berulang tahun. Ironisnya, ada KKKS yang berhutang tersebut sudah masuk dalam status produksi dan telah mendapatkan pembayaran cost recovery dari Pemerintah.

“Jumlah piutang perusahaan-perusahaan pengeboran yang berhasil ditemukan berdasarkan angket yang dilakukan APMI sebesar US$ 50 juta. Jumlah tersebut berasal dari sekitar 19 perusahaan anggota APMI,” jelas Wargono.

Sementara itu, Sekretaris Umum APMI Dharmizon Piliang menyatakan bahwa hutang KKKS ini berkaitan dengan nafkah dari para pekerja migas yang menjadi anggota APMI. Dari 357 perusahaan anggota APMI, sebagian besar bermasalah dengan hutang KKKS sehingga para pengusaha yang tergabung di APMI kesulitan membayar para pekerjanya.

“Jelas ini tak adil,” tegas Dharmizon.

Berdasarkan data APMI, anggotanya berkurang yang cukup signifikan sejak harga minyak jatuh, di mana pada tahun 2014 masih ada 480 perusahaan yang bergabung di APMI, namun kini hanya 357 perusahaan.

Perkiraaan investasi yang telah ditanamkan oleh anggota APMI, dengan menggunakan meode pendekatan dari data peralatan anggota APMI adalah sebesar kurang lebih US$ 4 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here