3 Bank BUMN Masuk 10 Besar Penyokong Batubara

0
750
Laporan pertama di kawasan yang secara komprehensif mengevaluasi kebijakan pendanaan dan rekam jejak keberlanjutan 35 lembaga keuangan domestik dan internasional.

Jakarta, Petrominer – Ketika lembaga keuangan internasional mulai mengurangi pembiayaan proyek-proyek batubara di Asia Tenggara, pendanaan dari perbankan Indonesia ke sektor tersebut justru meningkat. Lembaga keuangan Indonesia bertanggung jawab atas 12 pesen dari total pembiayaan proyek batubara di Asia Tenggara pada perode 2016-2024 atau setara US$ 3,96 miliar, yang digunakan untuk proyek-proyek pembangkit listrik di Jakarta dan sekitarnya.

Temuan ini diungkapkan dalam laporan terbaru Center for Energy, Ecology, and Development (CEED) bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil di Asia Tenggara dengan judul “Southeast Asia Fossil Fuel Divestment Scorecard 2025”. Menurut laporan ini, total pembiayaan batubara di kawasan Asia Tenggara mencapai US$ 32,48 miliar pada 2016-2024. Indonesia, Filipina, dan Vietnam tercatat sebagai penerima terbesar.

“Bank-bank internasional masih menjadi penyokong utama pembiayaan batubara, meski jumlahnya terus turun seiring peningkatan alokasi dana ke sektor gas. Sebaliknya, kontribusi bank-bank di kawasan, termasuk dari Indonesia, terus naik yang membuat mereka semakin terbuka terhadap risiko kebijakan iklim dan tekanan pasar global,” tulis laporan tersebut yang diperoleh PETROMINER, Selasa (3/6).

Laporan CEED ini merupakan laporan pertama di kawasan yang secara komprehensif mengevaluasi kebijakan pendanaan dan rekam jejak keberlanjutan 35 lembaga keuangan domestik dan internasional. Laporan ini diterbitkan oleh CEED bersama CELIOS, WALHI, KRuHA, Energy Shift Southeast Asia, dan RimbaWatch.

Bank Mandiri menjadi bank domestik terbesar yang membiayai PLTU dan terbesar kedua di antara bank regional Asia Tenggara dan internasional.

Di Indonesia, menurut laporan tersebut, tiga bank BUMN masuk jajaran 10 perbankan yang paling besar mengucurkan pembiayaan untuk proyek batubara dan gas. Bank Mandiri menduduki peringkat pertama lantaran menjadi bank domestik terbesar yang membiayai PLTU dan terbesar kedua di antara bank regional Asia Tenggara dan internasional.

Terbaru, pada September 2024, Bank Mandiri menyalurkan kredit  refinancing senilai US$ 1,27 miliar untuk PLTU Sumsel-8 di Sumatera Selatan. Selain itu, bank BUMN ini belum memiliki kebijakan eksplisit terkait penghentian pembiayaan batubara, meski menyatakan akan mengikuti target pemerintah yang menetapkan penghentian batubara pada tahun 2040.

Dua bank BUMN lainnya, Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI), menduduki peringkat ke-7 dan ke-8. Kedua bank tersebut memperoleh skor keberlanjutan rendah akibat ketiadaan kebijakan divestasi serta komitmen terbatas terhadap pembiayaan energi bersih.

“Bank masih membiayai krisis iklim sambil meremehkan dampaknya terhadap risiko keuangan dan mengancam kualitas hidup masyarakat. Scorecard ini merupakan bentuk penilaian praktik buruk lembaga keuangan, dan kami akan terus memantau serta melaporkannya kepada publik. Mereka perlu berubah sebelum terlambat,” ujar Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara.

Untuk itu, laporan tersebut mendesak bank-bank di Asia Tenggara, termasuk Bank Mandiri dan bank domestik Indonesia lainnya, agar menetapkan target terukur dan tenggat waktu jangka pendek, menengah, dan panjang untuk menghentikan seluruh pendanaan terhadap batubara, minyak, dan gas bumi.

Mereka juga wajib menutup celah dalam kebijakan pembiayaan, seperti penjaminan atau penjualan sekuritas yang mendukung proyek atau perusahaan batubara, serta memastikan anak perusahaan juga mematuhi kebijakan ini.

Kemudian, bank yang terlibat dalam mekanisme pensiun dini PLTU, harus mengadopsi 10 Prinsip Panduan Pembiayaan untuk memastikan prioritas pada energi terbarukan, serta menghindari solusi palsu seperti co-firing amonia atau penangkapan karbon. Bank domestik di Indonesia dan Asia Tenggara juga harus menyelaraskan kebijakan pembiayaan untuk mendukung transisi energi yang adil dan cepat sesuai target Paris 1,5°C.

Direktur Eksekutif Center for Energy, Ecology and Development (CEED) dan Konvenor Energy Shift Southeast Asia, Gerry Arances, mengatakan lembaga-lembaga keuangan, baik internasional maupun domestik, harus menghentikan investasi bahan bakar fosil baru dan mengalihkan pendanaan ke energi terbarukan pada skala yang dituntut oleh krisis iklim. Jika tidak, maka kawasan ini akan terjebak dalam siklus bencana yang terus meningkat, janji-janji yang diingkari, dan kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan.

“Ambisi ASEAN sekarang harus diimbangi dengan tindakan nyata, dan waktu untuk bertindak adalah sekarang,” tegas Gerry.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here