, ,

Wow, Target Contingent Resource Tahun Ini Sudah Terlampaui

Posted by

Jakarta, Petrominer – Upaya menambah cadangan agar industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dapat berkelanjutan terus dilakukan. Salah satunya dengan memastikan terdapat penambahan contingent resource, yakni potensi migas yang secara teknis bisa diproduksi namun belum ekonomis.

Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, mengatakan keberadaan contingent resource  sangat menentukan. Semakin besar volume yang diperoleh setiap tahun, semakin besar pula potensi hulu migas yang bisa ditingkatkan menjadi cadangan dan diproduksikan di masa yang akan datang.

“Pemerintah telah menetapkan target contingent resource sebesar 650 million barrels of oil equivalent (MMBOE) di tahun 2025 ini. Sementara SKK Migas mencatat target tersebut telah terlampaui,” jelas Rikky, Jum’at (25/7).

Hingga Juni 2025, menurutnya, SKK Migas mencatat contingent resource sudah mencapai 919 MMBOE atau tercapai 151,9 persen. Adapun outlook capaiannya hingga Desember 2025 bisa sekitar 1.143 MMBOE yang jika direalisasikan maka akan tercapai 189 persen.

“Tingginya capaian contingent resource menunjukkan bahwa secara potensi sumber daya migas di Indonesia masih menjanjikan,” ungkap Rikky.

Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa sejak tahun 2024, Pemerintah mulai menetapkan contingent resource sebagai salah satu key performance indicator (KPI) industri hulu migas, untuk melengkapi KPI reserve replacement ratio (RRR). Ketika contingent resource berujung pada plan of development (POD), artinya sudah ada kepastian komersialisasi. Selanjutnya contingent resource bisa meningkat menjadi RRR.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh SKK Migas mendorong undeveloped discovery statusnya dapat ditingkatkan melalui penetapan status eksplorasi (PSE). Dari total 279 struktur undeveloped discovery, yang sudah PSE mencapai 83 struktur dengan potensi 216 MMBO minyak dan 3,8 TCF gas. Sementara yang belum PSE mencapai 196 struktur, dengan potensi 1.125 MMBO minyak dan 8,3 TCF gas.

Tantangan dalam mendorong sumber daya menjadi cadangan adalah komersialisasinya, agar setiap sumber daya dapat masuk pada fase plan of development (POD). Terkait hal tersebut, ada potensi yang berada di lapangan marginal ataupun stranded area yang belum ada infrastruktur pendukungnya.

“Upaya untuk melakukan komersialiasi bisa dilakukan melalui trucking, pembangunan mini LNG maupun mini LPG, pemanfaatan aset hulu migas dan lainnya terus didorong. Kami bersyukur Pemerintah telah memberikan dukungan agar lapangan yang kurang ekonomis dapat menjadi ekonomis dengan insentif-insentif fiskal maupun non fiskal,” ujar Rikky.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *