,

Wilayah Perkotaan, Kontributor Tertinggi Emisi Karbon Individu

Posted by

Jakarta, Petrominer – Institute for Essential Services Reform (IESR) menemukan bahwa wilayah perkotaan menghasilkan emisi total per individu yang lebih tinggi dibandingkan wilayah semi perkotaan dan perdesaan. Tingginya emisi individu wilayah perkotaan ini berasal dari sektor transportasi, makanan dan rumah tangga.

Manajer Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengungkapkan rata-rata total emisi individu di perkotaan mencapai 3,4 ton setara karbon dioksida per tahun. Sementara untuk menyerap jumlah karbon tersebut membutuhkan sekitar 25 pohon yang dipelihara selama 20 tahun.

“Tingginya emisi individu wilayah perkotaan berasal dari sektor transportasi, makanan dan rumah tangga. Informasi ini penting untuk membantu pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya merancang strategi yang tepat, seperti penerapan kebijakan terpadu di sektor transportasi,” tegas Deon pada peluncuran kajian “Pola Jejak Karbon Individu berdasarkan Profil Demografis di Kawasan Perkotaan, Semi Perkotaan dan Perdesaan di Pulau Jawa,” Rabu (23/7).

Untuk menghitung jejak karbon individu, menurutnya, IESR telah mengembangkan jejakkarbonku.id. Hingga tahun 2025, platform digital ini telah digunakan oleh 76 ribu pengunjung. Kesadaran kolektif terhadap jejak karbon individu dapat mendorong upaya penurunan emisi, sekaligus menciptakan tekanan permintaan terhadap produk dan layanan rendah emisi. 

Lebih lanjut, Deon menjelaskan bahwa kajian IESR tersebut dilakukan di sembilan wilayah yang mewakili karakteristik perkotaan, semi perkotaan, dan perdesaan, yaitu Kota Jakarta Selatan, Bandung, dan Yogyakarta (perkotaan), Kota Bogor, Cirebon, dan Serang (semi perkotaan), serta Kabupaten Purworejo, Banjarnegara, dan Cianjur (perdesaan). Total jumlah penduduk di sembilan wilayah ini adalah 11,7 juta jiwa, sementara jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 483 orang.

Hasil kajian menunjukkan emisi individu di wilayah perkotaan mencapai 3,39 ton setara karbon dioksida per kapita per tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan wilayah semi perkotaan sebesar 2,81 ton, dan perdesaan 2,33 ton setara karbon dioksida per kapita per tahun.

Strategi Turunkan Emisi

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Clean Energy Hub IESR, Irwan Sarifudin, memaparkan bahwa secara umum, tiga sektor utama yang sangat berkontribusi terhadap emisi total per individu di Pulau Jawa adalah transportasi (43,34 persen), makanan (34,91 persen), dan rumah tangga (21,08 persen).

Tingginya emisi dari sektor transportasi mencerminkan dominasi penggunaan kendaraan pribadi, keterbatasan transportasi publik yang efisien, serta meningkatnya mobilitas di wilayah perkotaan. Sementara konsumsi makanan olahan dan produk hewani menyumbang emisi tinggi karena proses produksi dan distribusinya. Di sisi lain, emisi dari sektor rumah tangga berasal dari penggunaan listrik dan bahan bakar seperti LPG untuk kebutuhan domestik.

IESR merekomendasikan dua strategi untuk menurunkan emisi karbon di wilayah perkotaan, semi perkotaan dan perdesaan.

Pertama, fokus pada mengikis emisi di sektor transportasi. Di wilayah perkotaan, Pemerintah dapat mengembangkan infrastruktur transportasi ramah lingkungan melalui integrasi moda transportasi, perluasan jalur sepeda, dan penambahan stasiun pengisian kendaraan listrik umum.

Sementara, untuk wilayah semi perkotaan, Pemerintah perlu memperluas akses transportasi publik yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan penyangga, serta membangun fasilitas parkir terintegrasi.

Dan di perdesaan, Pemerintah perlu memberikan insentif untuk motor listrik. Upaya ini harus disertai dengan pembangunan fasilitas pengisian daya serta peningkatan akses transportasi umum untuk mendukung mobilitas berkelanjutan.

Kedua, Pemerintah dapat memberikan insentif atau subsidi bagi rumah tangga yang beralih ke perangkat elektronik efisien seperti lampu LED dan inverter. Dukungan lainnya, dapat berupa pemasangan panel surya melalui skema pembiayaan yang fleksibel.

Sementara di sektor makanan, kampanye edukasi dan kolaborasi dengan produsen perlu dilakukan untuk mendorong konsumsi makanan rendah emisi dan memastikan ketersediaan serta keterjangkauannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *