Jakarta, Petrominer – Aplikasi penerapan Industry 4.0 bagi sejumlah industri seperti industri kecil dan menengah (IKM) bisa dimulai dari titik lemahnya (pain point). Terutama di era cyber connected seperti saat ini. Kebutuhan tersebut dapat coba diatasi melalui teknologi sehingga Industry 4.0 menyelesaikan masalahnya.

Menurut Ketua DPD Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas) Fanky Christian, treatment ini diharapkan dapat mengatasi masalah IKM. Pasalnya, setiap perusahaan memiliki sudut pandang (point of view) yang berbeda dalam menyelesaikan masalahnya.

“Ada perusahaan yang perlu pembenahan masalah cash flow, ada juga yang ingin dibenahi masalah penanganan limbahnya (waste management). Itu sebabnya kami berusaha membedah potensi masalah dari yang mereka merasakan sakit atau kelemahan,” ujar Fanky dalam acara diskusi Industrial Transformation Asia Pacific beberapa waktu lalu.

Dia menegaskan peluang itu mendorong perusahaan berskala kecil dan menengah (IKM) untuk mengadopsi teknologi, karena perusahaan berskala menengah sampai besar pasti mampu mengukur kekuatan dan kelemahan mereka sendiri. Apalagi, teknologi sudah tidak mahal lagi.

Kenapa demikian? Menurut Fanky, karena sudah banyak industri yang menerapkan sistem terintegrasi dalam Entreprise Resource Planning. Sistem ini begitu sederhana dan mengintegrasikan antara akunting sebagai pusat data analisa dengan sistem manajemen dan sumber daya manusia (human resource).

“Jika sudah lengkap, maka ini akan sampai pada titik yang dinamakan ERP. Itu sebabnya semua infrastruktur harus mendukung adanya analisa sampai data yang dimiliki oleh satu perusahaan, dapat masuk dalam sistem big data,” tegasnya.

Bagi setiap perusahaan, jelas Fanky, Industry 4.0 harus bertujuan mempermudah pekerjaannya. Hal ini disadari tidak mudah, baik bagi pengusaha maupun pemerintah. Itu sebabnya, disusunlah Making Industry 4.0 dan juga INDI (Indonesia Industry 4.0 Readiness Index) sebagai tindak lanjut implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

Command Centre

Sementara itu, Head of Manufacturing Kalbe Morinaga Indonesia, Yudha Agus, menyatakan bahwa pemberlakuan Industry 4.0 didukung juga dengan keberadaan sistem komando (command centre), sehingga jika ada mesin yang tidak berfungsi (mati) dapat diantisipasi sebelumnya. Demikian juga jika ada mesin yang perlu pemeliharaan (maintenance). Pasalnya, sistem otomasi mesin itu pasti berimbas pada produktivitas perusahaan.

Sedangkan Digital Transformation Senior Manager Schneider Electric Indonesia, Fadli Hamsani, mengemukakan bahwa implementasi Industry 4.0 secara nyata, harus mampu meningkatkan efisiensi perushaan sampai 40 persen. Itu sebabnya diperlukan juga akselerasi dalam teknologi sampai ditemukannya model bisnis baru, termasuk adanya komitmen dan solusi dari semua faktor-faktor tersebut.

Hal inilah yang mendorong SingEx Exhibition dan Deutsche Messe menggelar Industrial Transformation Asia Pacific di Singapura pada 22 – 24 Oktober 2019 mendatang.

Menurut Senior Conference Producer, Industrial & Urban Solutions, SingEx Exhibitions, Jane Siow, forum tersebut bisa dimanfaatkan sebagai salah satu upaya pembelajaran unik untuk mendukung proses kebutuhan belajar bagi industri manufaktur dan bisnisnya, terutama dalam beradaptasi dengan proses teknologi Industry 4.0 dan solusinya

“Bagi pelaku usaha seperti Aptiknas, ajang ini dianggap penting, karena dari sana mereka akan dapat melihat apa saja yang sudah dilakukan oleh negara lain di kawasan Asia Pasifik, terutama setelah mereka mengadopsi Industry 4.0,” ujar Jane.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here