Petugas sedang mendeteksi gangguan atau hotspot pada panel surya di PLTS Cirata, Purwakarta, Jawa Barat. Kegiatan ini sebagai preventive maintenance- Array modul surya dengan menggunakan kamera thermograph (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) terus melakukan transformasi dengan mendorong penggunaan energi rendah karbon yang ramah lingkungan. Caranya, dengan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) dalam penyediaan energi listrik. Beberapa strategi pun telah disusun untuk mendorong pemanfaatan EBT ini.

Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini, menjelaskan bahwa PLN telah meluncurkan salah satu aspirasi utama dalam transformasinya, yaitu green. Melalui aspirasi ini, PLN memiliki beberapa strategi untuk mendorong penggunaan EBT, yaitu dengan co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang telah beroperasi, program konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biomassa, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung dengan memanfaatkan bendungan-bendungan yang sudah ada untuk membangkitkan listrik.

“Kita berinovasi dan memanfaatkan potensi-potensi yang ada guna meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan,” ujar Zulkifli dalam acara Webinar Indonesia Clean Energy Forum Kuartal III Tahun 2020, Jum’at (24/7).

Menurutnya, PLN telah mengembangkan co-firing di beberapa PLTU. Seperti PLTU Paiton berkapasitas 2×400 MW menggunakan olahan serbuk kayu, PLTU Ketapang berkapasitas 2×10 MW dan PLTU Tembilahan 2×7 MW menggunakan olahan cangkang sawit.

Co-firing dengan mencampurkan bahan olahan tersebut mencakup 5 persen dari total kebutuhan bahan bakar pembangkit. Sementara untuk konversi PLTD ke PLT Biomassa, PLN mencatat terdapat 1,3 Gigawatt PLTD yang dapat dikonversi,” ungkap Zulkifli.

Selain itu, PLN juga mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung berkapasitas besar, dengan memanfaatkan bendungan-bendungan yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, pada Januari 2020 lalu, PLN telah menandatangani kontrak jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan Konsorsium PT PJBI-Masdar untuk membangun PLTS Terapung di Cirata, Jawa Barat, dengan total kapasitas 145 MW. Pembangunan PLTS ini akan dimulai pada awal tahun 2021 dan akan menjadi PLTS Terapung terbesar di Asia Tenggara.

“Kami berhasil mendapatkan tarif EBT yang murah yaitu sebesar 5,8 cUSD/kWh. Ke depan kami akan mendorong pembangkit seperti ini dan pastinya dengan harga yang lebih murah,” tegasnya.

Saat ini, PLN juga tengah mengembangkan Renewable Certificate Energy (REC). Program ini akan ditawarkan kepada pelanggan yang memiliki komitmen penggunaan EBT, di mana setiap penggunaan 1 MWH EBT akan mendapatkan 1 unit REC.

Selain penyediaan listrik melalui pembangkit EBT, PLN juga menyiapkan infrastruktur untuk mendukung kehadiran kendaraan listrik. PLN telah melakukan inovasi dengan menghadirkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listirik Umum (SPKLU) di beberapa lokasi.

“Pengembangan Energi Baru Terbarukan bukan semata pemenuhan target pemerintah, tetapi dilakukan sebagai tanggung jawab PLN untuk generasi mendatang. Power Beyond Generations,” ucap Zulkifli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here