Jakarta, Petrominer – Kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas) memang memberi kontribusi cukup besar bagi penerimaan negara. Bahkan, penerimaan tahun 2017 lalu melebih target. Namun tidak pada kinerja produksinya, yang masih sedikit di bawah target.

Sampai 31 Desember 2017, lifting migas tidak bisa mencapai target yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017. Padahal, pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) maupun Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sudah berupaya seoptimal mungkin untuk memompa migas.

Begitu pula dengan proyek-proyek baru migas, terus digenjot penyelesaiannya. Namun hanya 14 proyek saja yang bisa direalisasikan dan memberi tambahan produksi cukup luamayan.

“Kami sudah berusaha seoptimal mungkin untuk menekan penurunan produksi alamiah dengan percepatan penyelesaian proyek dan mendorong kegiatan yang menjaga tingkat produksi,” ujar Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, dalam paparannya tentang Capaian Kinerja Hulu Migas Tahun 2017, Jum’at (5/1).

Produksi migas mencapai 2.162 ribu barrel oil equivalent per day (BOEPD) atau sekitar 101,4 persen dari target WP&B revisi 2017 yang sebesar 2,133 ribu BOEPD. Total produksi itu terdiri dari produksi minyak bumi sebesar 801,4 ribu barrel oil per day (BOPD) atau 99,7 persen dari target sebesar 803,9 ribu BOPD, dan produksi gas bumi sebesar 7.621 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 102,4 persen dari target yang sebesar 7.440 MMSCFD.

Sementara lifting migas mencapai 1.944 ribu BOEPD. Kinerja itu sekitar 98,9 persen dari target APBN-P 2017 yang sebesar 1.965 ribu BOEPD.

Total lifting itu terdiri dari lifting minyak bumi sebesar 803,8 ribu BOPD atau 98,6 persen dari target sebesar 815 ribu BOPD, dan lifting gas bumi sebesar 6.386 MMSCFD atau 99,2 persen dari target yang sebesar 6.440 MMSCFD.

Kinerja produksi ini diperkirakan terpengaruh oleh realisasi investasi sepanjang tahun 2017 yang juga tidak mencapai target. Realisasi investasi tahun 2017 hanya sebesar US$ 9,33 miliar dari kesepakatan sebesar US$ 12,29 miliar atau hanya tercapai 80 persen.

Dari angka tersebut, investasi di blok eksplorasi sebesar US$ 180 juta, sedangkan investasi untuk blok produksi sebesar US$ 9,15 miliar.

Melesetnya realisasi investasi ini berdampak pada pencapaian rasio cadangan pengganti (Reserve Replacement Ratio/RRR). Sampai akhir tahun 2017, RRR hanya mencapai 55,33 persen atau 92,2 persen dari target RRR 60 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here