
Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian terus mendorong optimalisasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada setiap produk industri nasional. Selain untuk memacu daya saing, langkah ini juga untuk mendukung produktivitas bagi sektor pembuat komponennya.
Seluruh satuan kerja (satker) di bawah binaan Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin telah siap melayani industri dalam negeri untuk memenuhi pengoptimalan TKDN produknya, baik melalui optimalisasi teknologi rekayasa proses maupun rekayasa bahan baku. Dengan begitu, penggunaan bahan baku sumber daya alam lokal atau hasil industri hulu lokal diharapkan bisa meningkat.
“Langkah optimalisasi teknologi ini sejalan dengan kebijakan Kemenperin untuk menaikkan nilai TKDN menjadi 50 persen pada tahun 2024, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024,” kata Kepala BSKJI, Doddy Rahadi, Sabtu (24/4).
Salah satu satker BSKJI, ungkap Doddy, adalah Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand Industri) Banjarbaru (BRSBB). Satker ini telah berhasil menyediakan substitusi pemenuhan bahan baku dari clay impor dengan clay lokal (kaolin) dari Pulau Belitung. Proses ini telah diterapkan pada produksi lembaran rata kalsium silikat.
Inovasi ini merupakan bentuk sinergi antara BRSBB dengan PT Sinar Nusantara Industries (SNI) melalui kerjasama magang industri dan layanan jasa optimalisasi teknologi industri.
“Melalui kolaborasi tersebut, BRSBB berhasil menunjukkan bahwa kualitas lembaran rata kalsium silikat yang dihasilkan dengan bahan kaolin Belitung sebanding dengan kualitas produk serupa dengan bahan clay impor,” jelasnya.
Kaolin merupakan mineral tanah liat yang penting digunakan di sektor industri. Sementara lembaran rata kalsium silikat digunakan sebagai komponen bahan bangunan meliputi dinding, partisi, plafon, listplank, lantai ataupun penggunaan lainnya baik di dalam maupun di luar ruangan.
Saat ini, nilai impor bahan clay terus mengalami penurunan. Pada tahun 2018, total impor clay dari seluruh negara sebesar 81.427 ton atau senilai US$ 40,9 juta. Turun menjadi 74.758 ton atau senilai US$ 42 juta pada 2019, dan turun lagi menjadi 56.195 ton atau senilai US$ 22,6 juta pada tahun 2020.
Substitusi clay impor dengan clay lokal akan membawa penurunan impor senilai US$ 579.104 atau setara Rp 8,37 miliar per tahun. Nilai ini merupakan kebutuhan clay dari pabrik SNI di Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang mencapai 1.440 ton per tahunnya.
“Di masa mendatang, rekayasa proses ini diharapkan dapat mendorong substitusi impor bahan baku clay untuk menguatkan struktur industri dalam negeri dan menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri domestik,” papar Doddy.
Sementara itu, Kepala BRSBB, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa kolaborasi BRSBB dengan SNI telah berlangsung sejak tahun 2018 lalu. Percobaan pertama aplikasi clay impor dengan clay lokal pada lembaran rata kalsium silikat dilaksanakan pada skala laboratorium di BRSBB. Kemudian diujicobakan pada skala penuh di lini produksi SNI dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
“Berdasarkan hasil pengujian, kualitas lembaran rata kalsium silikat dari bahan baku clay lokal sudah kompetitif dengan produk serupa yang terbuat dari bahan baku impor. Hasil ini teruji dengan parameter sifat fisika, sifat mekanika, bentuk, dan sifat tampak, serta uji ketahanan panas atau hujan,” ujar Budi.

























