Jakarta, Petrominer – Tarif Tenaga Listrik (TTL) di Indonesia bukanlah yang termahal, bahkan termasuk yang kompetitif untuk kawasan ASEAN. Tidak hanya itu, sejak Juli 2017 lalu, tarif listrik tidak mengalami kenaikan.

Pemerintah dengan PT PLN (Persero), sebagai penyedia ketenagalistrikan nasional, selalu menjaga agar Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik tidak mengalami perubahan. Ini merupakan tanggung jawab Bersama antara Pemerintah dan PLN. Hal tersebut dapat dilakukan melalui efisiensi kinerja operasi.

“Sebagai buktinya, Pemerintah telah menetapkan tidak adanya kenaikan TTL sejak 1 Juli 2017 lalu hingga akhir Desember 2017 nanti,” ujar ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, Minggu (12/11).

Data bulan Agustus 2017 menyebutkan bahwa TTL untuk golongan rumah tangga di Indonesia sebesar 11,03 sen US$ per kWh, jauh lebih murah dibandingkan negara tetangga seperti Filipina sebesar 15,36 sen US$ per kWh, Singapura 15,99 sen US$ per kWh dan Thailand sebesar 12,04 sen US$ per kWh.

Pada periode yang sama, untuk pelanggan bisnis menengah, di Indonesia tarifnya adalah 11,03 sen US$ per kWh. Sementara di Malaysia dan Vietnam lebih tinggi yaitu sebesar 11,90 sen US$ per kWh dan Singapura 11,35 sen US$ per kWh.

Demikian juga untuk pelanggan bisnis besar, pada periode tarif Agustus 2017, tarif di Indonesia adalah 8,38 sen US$ per kWh. Sementara beberapa negara lebih tinggi, yaitu Malaysia 8,41 sen US$ per kWh, Thailand 8,81 sen US$ per kWh, Singapura 11,11sen US$ per kWh, Filipina 9,05 sen US$ per kWh, dan Vietnam 10,95 sen US$ per kWh.

Pemerikasaan gardu dilakukan dalam rangka memastikan pasokan listrik sekaligus upaya perawatan fasilitas.

Tarif Listrik di ASEAN

Saat ini, ujar Dadan, Kementerian ESDM tengah mengkaji bagaimana jumlah golongan tarif pelanggan PLN yang berjumlah 37 golongan tarif dapat disederhanakan. Misalnya, untuk pelanggan 900 VA mampu, 1.300 VA, 2.200 VA, 3.500 VA s.d. 5.500 VA sebenarnya sudah membayar besaran tarif yang sama (tarif non subsidi), sehingga sangat dimungkinkan untuk disederhanakan atau digabungkan menjadi satu golongan pelanggan saja untuk mempermudah.

“Nantinya, tidak akan ada konsekuensi biaya yang dipikul oleh pelanggan meskipun struktur tarif ini disederhanakan,” paparnya.

Negara-negara ASEAN lainnya juga telah menerapkan golongan tarif tenaga listrik yang cukup praktis. Berikut beberapa struktur tarif tenaga listrik yang telah diterapkan di negara-negara tetangga sebagaimana dilaporkan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM:

Brunei Darussalam
Tarif tenaga listrik di negara ini dibagi ke dalam dua jenis yakni tarif A dikenakan bagi rumah tangga dan tarif B untuk komersial/industri. Tarif A sendiri dibagi menjadi beberapa blok pemakaian, yaitu: 10 kilo Watt hour (kWh) pertama dengan tarif B$0,25 sen/kWh, 60 kWh berikutnya (B$0,15 sen/kWh), 100 kWh berikutnya (B$0,10 sen/kWh) dan pemakaian kWh berikutnya (B$0,05 sen/kWh). Sementara untuk tarif B, 10 kWh pertama (kVA x B$0,20 sen/kWh, 100 kWh berikutnya (kVA x B$0,07 sen/kWh), 100 kWh berikutnya (kVA x B$0,06 sen/kWh, dan pemakaian kWh berikutnya (B$0,05 sen/kWh).

Timor Leste
Di Timor Leste, untuk pelanggan yang menggunakan kWh meter, tarifnya dibagi dalam dua golongan tarif, yakni Komersial dan Kantor Pemerintah ($0,20/kWh) serta domestik dan sosial ($0,16/kWh). Selain dua golongan tarif diatas, bagi pelanggan yang tidak menggunakan kWh meter tarifnya bervariasi dari $3 per bulan untuk pelanggan miskin dengan sambungan 2 Ampere dan menyala hanya 6 jam per hari, sampai dengan $25 per bulan.

Thailand
Struktur tarif tenaga listrik di Thailand dibagi ke dalam 7 golongan pelanggan yaitu (1) rumah tangga, 2,84 Bath/kWh; (2) pelayanan umum skala kecil, 3,26 Bath/kWh; (3) pelayanan umum skala medium, 2,79 Bath/kWh; (4) pelayanan umum skala besar, 2,45 Bath/kWh; (5) hotel, 2,52 Bath/kWh; (6) institusi pemerintah, 2,71 Bath/kWh; dan (7) kegiatan pertanian, 2,28 Bath/kWh.

Myanmar
Di negara ini pun, tarif listriknya dibagi ke dalam 7 golongan besar berdasarkan jenis penggunaan dari tenaga listriknya yakni (1) umum; (2) listrik domestik; (3) listrik skala kecil; (4) industri; (5) bangunan gedung; (6) lampu jalan; dan (7) penerangan sementara.

Singapura
Negara ini hanya menerapkan 5 golongan tarif pelanggan listrik yakni (1) Tegangan Rendah-Domestik; (2) Tegangan Rendah-non domestik; (3) Tegangan Tinggi-small supplies; (4) Tegangan Tinggi-large supplies; dan (5) Tegangan Ekstra Tinggi.

Vietnam
Di Vietnam, tarif tenaga listrik dibagi ke dalam 4 struktur utama yakni industri manufaktur, instansi pemerintah, bisnis, dan rumah tangga, yang masing-masing dirinci lagi berdasar tegangannya. Total setelah dirinci, terdapat 11 golongan pelanggan.

Filipina
Negara ini telah membagi golongan tarif tenaga listrik di negaranya ke dalam 6 golongan tarif yaitu: (1) rumah tangga; (2) pelayanan umum; (3) pembangkitan umum; (4) rumah sakit dan fasilitas sosial; (5) penerangan jalan umum; dan (6) Generator yang terhubung dengan jaringan distribusi dengan daya ≥ 40 kW.

Malaysia
Negara lain yang menerapkan pembagian golongan tarif tenaga listrik yang cukup rumit adalah Malaysia. Namun, penggolongan tarif tenaga listrik ini hanya mencatatkan 16 golongan tarif saja atau kurang dari setengah dari total golongan tarif yang ada di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here