Jakarta, Petrominer — Penurunan harga minyak dunia yang terjadi sejak tiga tahun terakhir berimbas kepada lesunya kegiatan investasi hulu minyak dan gas bumi (migas). Implikasinya, kegiatan operasi migas pun berkurang. Dampaknya pun langsung dirasakan oleh para pekerja, di mana banyak terjadi pengurangan jumlah karyawan di perusahaan-perusahaan migas.
Menurut Hasbi A. Lubis, Board of Member Society Petroleum Engineers (SPE)-Java Section, pengurangan pekerja migas itu bisa dilihat dari penurunan keanggotaan yang cukup signifikan dari anggota SPE sejak tahun 2014 lalu.
“Dalam tiga tahun terakhir, professional member kita secara global turun sekitar 33.000 orang menjadi tersisa 99.000 orang,” jelas Hasbi dalam Special Session bertema “Investing in Indonesians: Impact of the Current Landscape” yang digelar menjelang penutupan The 41st Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2017, Jum’at (19/05).
Meski begitu, jelas Hasbi, jumlah anggota SPE dari kalangan mahasiswa dari disiplin ilmu migas seperti teknik perminyakan, geofisika, dan pertambangan, ternyata masih tetap tinggi. Secara global dalam tiga tahun terakhir, kalau profesional berkurang sekitar 33.000 orang, maka anggota dari mahasiswa justru bertambah 36.000 orang.
Kondisi tersebut tentunya merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana mempertemukan minat kerja di bidang perminyakan yang masih terus tinggi, sementara serapan tenaga kerja di sektor hulu migas justru melemah.
“Ada ancaman di crew change. Seperti kita tahu di kegiatan operasi migas ada istilah crew change di mana ada pergantian kru di lokasi. Nah crew change kali ini tidak ada yang menggantikan karena secara tiba-tiba tidak tersedia lapangan kerja menyusul pemangkasan cost karena investasi yang semakin menurun,” tuturnya.
Hasbi pun mengingatkan agar Pemerintah bersama semua stakeholder terkait harus membuat rencana jangka panjang untuk mengatasi permasalahan sumber daya manusia di sektor hulu migas saat ini. Apalagi, perubahan skema bagi hasil dari PSC Cost Recovery ke PSC Gross Split justru akan memberi pengaruh tambahan kepada penyerapan tenaga kerja.
Hal senada juga disampaikan Julianta P. Panjaitan, Ketua Indonesian Society of Petroleum Geologist (ISPG-IAGI). Julianta menambahkan, terus merosotnya investasi karena iklim investasi yang belum atraktif di Indonesia juga turut memperberat permasalahan tenaga kerja di sektor hulu migas.
“Dampak seperti lay off itu sudah ada mulai dari tahun 2015 dan sampai saat ini masih terus terjadi,” katanya.
Julianta memaparkan bahwa penyerapan tenaga profesional di bidang geologis juga terus menurun seiring berkurangnya aktivitas di sektor migas. Dari 1.000 lulusan geologis dalam 10 tahun terakhir di Indonesia, yang terserap di industri hanya 10 persen. Setiap perusahaan biasanya membutuhkan dua sampai tiga geologis. Namun karena harus melakukan efisiensi, maka hanya merekrut satu tenaga geologi.
“Itu pun yang kerja permanen di bawah 10 persen. Ini merupakan fenomena gunung es,” tegasnya.
Oleh karena itu, Julianta menilai seluruh pemangku kepentingan perlu melakukan terobosan untuk memberi solusi atas permasalahan ini. Dia pun berharap Pemerintah dapat mendorong kegiatan eksplorasi. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu di Tanah Air juga harus distandardisasi melalui sertifikasi, di tengah kemungkinan maraknya pemakaian pekerja asing maupun pekerja lokal karena tuntutan efisiensi perusahaan.
“Kami sangat berharap akan ada kolaborasi studi maupun riset dengan para pelaku usaha migas maupun pemangku kepentingan lainnya di industri ini,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI), Taufik Aditiyawarman, juga mengatakan bahwa dampak harga minyak yang rendah serta turunnya investasi hulu migas juga memberikan multiplier effect bagi para anggota IAFMI yang merupakan para profesional di industri penunjang migas.
“Para pekerja konstruksi, engineering sampai vendor supllier itu juga terdampak,” tegasnya.
“Sejumlah besar karyawan migas sudah pindah ke sektor lain, angkanya berbeda-beda dari satu perusahan ke perusahaan lain,” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Tutuka Ariadji.
Minat Kerja di Migas
Cerita lain dikisahkan oleh Ketua Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Rusalida Raguwanti. Menurutnya, dalam lima tahun terakhir ternyata banyak program studi geofisika yang baru berdiri.
“Mungkin ini awalnya dipicu dengan tingginya harga minyak dan meningkatnya bisnis migas di Indonesia. Namun ini memberikan kekhawatiran bagi kita juga, karena lulusan yang dihasilkan dari 31 jurusan geofisika di Indonesia mencapai 700-800 orang per tahun. Itu harus jadi concern kita bersama, kemana mereka nanti akan bekerja,” beber Rusalinda.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia, jelas Rusalinda, ternyata minat mahasiswa geofisika untuk bekerja di sektor migas masih tetap tinggi. Didapatkan data bahwa minat untuk bekerja di bidang migas masih mendominasi sekitar 50 persen.
“Namun sayang, pada saat sekarang ini justru tidak ada rekrutmen atau program internship di perusahaan kontraktor kontrak kerjasama migas,” jelasnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Tutuka Ariadji. Menurutnya, waktu tunggu dari para lulusan bidang perminyakan untuk mendapatkan pekerjaan pada kondisi saat ini menjadi lebih lama.
“Dulu hanya beberapa bulan saja tapi sekarang para lulusan itu bisa menunggu 1 sampai 2 tahun untuk mendapatkan pekerjaan, di mana ada sekitar 30 persen lulusan yang menunggu untuk mendapatkan pekerjaan tersebut,” ungkap Tutuka yang juga seorang Dosen di Teknik Perminyakan ITB.
Sementara karyawan di sejumlah perusahaan migas pun semakin berkurang karena imbas efisiensi. Alhasil, banyak profesional migas yang justru beralih profesi ke pekerjaan lain yang tidak sesuai dengan pendidikannya.
“Sejumlah besar karyawan migas sudah pindah ke sektor lain, angkanya berbeda-beda dari satu perusahan ke perusahaan lain,” ucapnya.
Dengan situasi seperti ini, maka ada kemungkinan bagi perusahaan-perusahaan migas untuk kehilangan expertise dari industri migas. Potensi kehilangan expertise ini nantinya akan membuat semacam brain drain.
Pilihan Sulit
Sebelumnya, Direktur IPA Ignatius Tenny Wibowo menyatakan bahwa pilihan sulit harus dihadapi oleh perusahaan dengan situasi seperti saat ini. Perusahaan dihadapkan dengan pilihan, antara menghentikan operasi sementara atau mengurangi sebagian tenaga kerjanya.
“Padahal sekitar 95-98 persen tenaga kerja di sektor migas merupakan tenaga kerja lokal,” jelasnya.
Tenny menambahkan, meski perusahan migas telah melakukan berbagai macam upaya, namun penurunan investasi sekitar 50 persen mau tidak mau akan memiliki impact terhadap seberapa besar perusahaan dapat menyerap tenaga kerja baru dan mempertahankan tenaga kerja yang ada.
Menurutnya, perusahaan migas harus punya strategi yang benar. Untuk jangka pendek kita harus tetap memberikan kesempatan dengan cara informal, misalnya dengan memberikan kesempatan magang selama enam bulan, kunjungan lapangan sampai kerja praktek.
“Namun yang harus kita pikirikan sekarang adalah untuk jangka panjangnya. Menurut saya, kita semua harus bekerja bersama-sama,” tegas Tenny.
Dalam kesempatan itu, dia menyarankan agar industri dan asosiasi perlu bekerja sama dalam peningkatan softskill. Tidak hanya itu, peningkatan investasi juga diyakini masih sebagai kunci agar industri migas tetap berjalan perlu banyak pihak untuk mewujudkannya.
Tenny menyebutkan untuk menaikkan iklim investasi, investor akan melihat berapa keuntungan yang akan mereka dapatkan. Selain itu, perlu kemudahan bisnis dengan memangkas perijinan mulai dari memberikan insentif dan mempermudah pembebasan lahan. Faktor lainnya yaitu pentingnya stabilitas politik dan kebijakan.
“Bagaimana cara membuat Indonesia menarik dibanding negara lain, sehingga menarik investor datang,” tegasnya.











Tinggalkan Balasan