, ,

Tangguh, Kilang LNG dengan Intensitas Gas Rumah Kaca Terendah

Posted by

Jakarta, Petrominer – Front-End Engineering and Design (FEED) untuk pengembangan lapangan Ubadari dan Vorwata Carbon Capture Utlization and Storage (CCUS) di Papua Barat akan dimulai pada pertengahan tahun 2022 depan. Dari kedua lapangan ini, ada potensi penambahan gas sebesar 1,3 triliun kaki kubik (Tcf).

bp dan para mitra LNG Tangguh menginformasikan bahwa SKK Migas telah menyetujui plan of development (POD) proyek LNG Tangguh tahap berikutnya, yaitu pengembangan lapangan Ubadari dan Vorwata CCUS. Estimasi penyelesaian pekerjaan tahun 2026, setelah keputusan investasi akhir (FID).

“Persetujuan rencana pengembangan ladang Ubadari dan Vorwata CCUS adalah bentuk kepercayaan terhadap proyek LNG Tangguh dan juga wujud komitmen berkelanjutan kami untuk berinvestasi di Indonesia. Kami bangga dapat menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan produksi gas di Indonesia sekaligus mengurangi emisi secara signifikan,” ujar President bp Regional Asia Pacific, Nader Zaki, dalam pernyataan tertulis yang diterima PETROMINER, Senin (30/8).

Menurut Zaki, pengembangan lanjutan proyek LNG Tangguh ini sepenuhnya sejalan dengan tujuan bp dan dengan upaya Pemerintah Indonesia untuk memenuhi komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) berdasarkan Perjanjian Paris. Dia pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kementerian ESDM, SKK Migas dan Ditjen Migas, serta semua mitra Tangguh atas dukungan dan kerjasamanya sehingga memungkinkan disetujuinya rencana pengembangan ini.

Sementara Executive Vice President bp For Gas & Low Carbon Energy, Dev Sanyal, menjelaskan bahwa pengembangan lapangan Ubadari merupakan langkah percepatan setelah melalui program appraisal yang sukses. Gas akan diproduksi melalui instalasi tanpa awak yang terhubung dengan pipa lepas pantai ke fasilitas LNG Tangguh.

Sementara pengembangan CCUS Vorwata akan menginjeksikan kembali sekitar 25 juta ton CO2 ke reservoir Vorwata untuk mengurangi sebagian besar emisi karbon dan memberikan tambahan produksi gas melalui enhanced gas recovery (EGR). Injeksi CO2 ini akan mengurangi hingga 90 persen CO2 dari reservoir yang saat ini dilepas ke udara, atau hampir setengah dari emisi LNG Tangguh.

“Hal ini akan menjadikan Tangguh sebagai salah satu kilang LNG dengan intensitas gas rumah kaca (GRK) terendah di dunia,” ungkap Sanyal.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa pengembangan kedua lapangan gas ini menunjukkan bahwa Tangguh merupakan proyek strategis dalam portofolio bp. Ubadari merupakan wujud nyata dari fokus usaha kami dalam pengembangan gas. Sedangkan proyek Vorwata CCUS-EGR akan menjadi tonggak penting bagi bp untuk dapat berkontribusi terhadap tujuan untuk mengurangi emisi.

“Pencapaian pada tahap ini sangatlah luar biasa. Sebuah hasil nyata dari kemitraan antara bp dengan para mitranya dan Pemerintah Indonesia,” tegas Sanyal.

Saat ini, LNG Tangguh merupakan lapangan penghasil gas terbesar di Indonesia dengan produksi 1,4 miliar kaki kubik (Bcf) setiap harinya melalui dua Train LNG. Setelah Train 3 beroperasi, akan dicapai produksi 2,1 Bcf setiap harinya. Proyek Ekspansi Tangguh, termasuk pembangunan Train 3, adalah salah satu Proyek Strategis Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *