Jakarta, Petrominer – Tahun depan, Pemerintah mulai memberlakukan pendistribusian LPG 3 kg tepat sasaran. Di mana, LPG bersubsidi tersebut hanya bisa dibeli oleh konsumen golongan tertentu dan sudah terdata. Meski begitu, kuota LPG ini untuk tahun 2024 justru ditambah dan lebih banyak dibandingkan perkiraan realisasi distribusi tahun 2023 ini.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (14/6), Ditjen Migas Kementerian ESDM, dan PT Pertamina (Persero) menyepakati kuota LPG 3 kg pada Rancangan APBN tahun anggaran 2024 sebesar 8,3 juta MT. Dalam rapat sebelumnya, outlook volume LPG 3 kg tahun 2023 ditetapkan sebesar 7,90 juta MT dan kuota yang disepakati untuk diajukan dalam pembahasan RAPBN 2024 adalah 8,20–8,30 juta MT.
“Berdasarkan pendalaman yang dilakukan Komisi VII DPR termasuk pertimbangan peningkatan permintaan masyarakat dan prognosa realisasi kuota volume LPG 3 kg di tahun 2023 sebesar 8,22 juta MT, maka Komisi VII DPR bersepakat dengan Dirjen Migas Kementerian ESDM dan Dirut Pertamina bahwa kuota volume LPG 3 kg pada RAPBN tahun anggaran 2024 sebesar 8,3 juta MT,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR, Dony Maryadi Oekon.
RDP juga menyepakati untuk melakukan pembatasan loading order (LO) untuk setiap agen perusahaan maksimal 6 LO per hari guna mendukung pemerataan distribusi LPG 3 kg di seluruh pelosok Indonesia.
Kuota LPG 3 kg yang disepakati tersebut mengalami kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ini sejalan dengan tren konsumsi LPG 3 kg yang terus naik dalam lima tahun terakhir.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji, dalam paparannya mengungkapkan bahwa realisasi penyaluran LPG 3 kg pada tahun 2022 mencapai 7,80 juta MT. Sedangkan pada tahun 2023 ini, kuota LPG 3 kg sebesar 8,00 juta MT termasuk cadangan 0,5 MT, di mana realisasi penyaluran sampai dengan Mei 2023 sudah mencapai 3,32 juta MT atau 41,6 persen.
Pada rapat kerja Menteri ESDM dengan Komisi VII tanggal 5 Juni 2023, telah disampaikan bahwa outlook volume LPG 3 kg 2023 adalah 7,90 juta MT dan kuota yang disepakati untuk diajukan dalam pembahasan RAPBN tahun anggaran 2024 adalah 8,20–8,30 juta MT.
Realisasi penyaluran LPG 3 kg sepanjang tahun 2018 sampai 2022 terus mengalami kenaikan. Tahun 2018, realisasinya mencapai 6,53 juta MT melebihi kuota yang ditetapkan 6,45 juta MT. Selanjutnya tahun 2019, realisasi sebesar 6,84 juta MT dari kuota 6,98 juta MT. Untuk tahun 2020, realisasi 7,14 juta MT melebihi kuota 7,00 juta MT.
“Tahun 2021, realisasi 7,46 MT dari kuota sebesar 7,50 juta MT. Sedangkan tahun 2022, realisasi mencapai 7,80 juta MT dari penetapan kuota 8,00 juta MT. Tahun 2023 hingga bulan Mei, penyaluran mencapai 3,32 juta MT dari kuota yang ditetapkan sebesar 8,00 juta MT,” ungkap Tutuka.
Kondisi ini berkebalikan dengan realisasi penyaluran LPG Non PSO dalam kurun waktu 2019 sampai 2023 yang terus mengalami penurunan. Penyaluran LPG Non PSO tahun 2019 sebesar 0,66 juta MT, tahun 2020 sebesar 0,62 juta MT, tahun 2021 sebesar 0,60 juta MT, tahun 2022 sebesar 0,46 juta MT dan tahun 2023 sampai Mei 2023 sebesar 0,15 juta MT.








Tinggalkan Balasan