Tahun 2035, Pembangkit Energi Terbarukan Capai 11,2 TW

0
1294

Jakarta, Petrominer – Kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis energi terbarukan terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini didorong oleh serangkaian faktor, mulai dari kemajuan teknologi, adanya kebijakan pemberian insentif, hingga meningkatnya kesadaran akan pentingnya solusi energi yang berkelanjutan.

Menurut GlobalData, sumber energi terbarukan, khususnya tenaga surya fotovoltaik (PLTS) dan tenaga angin (PLTB) memegang porsi yang lebih besar dalam portofolio energi. Terpicu oleh penurunan biaya dan dukungan kebijakan yang kuat, khususnya PLTS dan PLTB, kapasitas terpasang pembangkit listrik energi terbarukan dunia diperkirakan melonjak dari 3,42 terrawatt (TW) tahun 2024 menjadi 11,2 TW pada tahun 2035 mendatang.

Dalam laporan terbarunya berjudul “Renewable Energy: Strategic Intelligence,” perusahaan data dan analitik ini mengungkapkan bahwa pasar energi terbarukan dunia meningkat dari kapasitas terpasang kumulatif sebesar 0,93 TW tahun 2015 menjadi 3,42 TW pada akhir 2024, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 16 persen. Sementara total kapasitas terpasang kumulatif diproyeksikan akan mencatat CAGR sebesar 11 persen selama periode 2024-2035.
wbahise.com

Prakiraan kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis energi terbarukan (dalam terra watt) tahun 2015-2035. (GlobalData, Mei 2025)

PLTS dan PLTB menjadi kontributor signifikan bagi sektor energi terbarukan, masing-masing menyumbang 56 persen dan 33 persen dari total kapasitas terpasang tahun 2024. Kawasan Asia Pasifik (APAC) telah menjadi pasar terbesar untuk kapasitas terpasang PLTS dan PLTB, masing-masing 1,18 TW dan 0,67 TW di tahun 2024.

“Seiring dengan terus menurunnya biaya teknologi, sumber energi terbarukan semakin menarik bagi para investor. Selain itu, strategi transisi energi, ditambah dengan meningkatnya permintaan listrik yang sebagian didorong oleh munculnya energi hidrogen dan kecerdasan buatan, akan mendorong pertumbuhan pasar energi terbarukan,” ujar analis listrik GlobalData, Rehaan Shiledar, dalam pernyataan tertulis yang diterima PETROMINER, Jum’at (30/5).

AI dan Efisiensi

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah sektor energi terbarukan. Pasalnya, teknologi ini mampu meningkatkan optimalisasi pembangkit listrik, memajukan manajemen jaringan, dan meningkatkan efisiensi di berbagai sistem. Tidak hanya itu, algoritme AI memiliki kemampuan untuk memperkirakan produksi energi, mengawasi operasi jaringan secara real-time, dan menyempurnakan strategi penyimpanan energi (energy storage).

“Kemajuan ini berkontribusi pada peningkatan keandalan dan efisiensi, sehingga menjadikan energi terbarukan lebih efektif dan ekonomis,” ungkap Shiledar.

Pengembang PLTB offshore terkemuka, seperti TotalEnergies, Corio Generation, EnBW, RWE, dan Statkraft, telah memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan efisiensi pengembangan proyek mereka. Demikian pula, pengembang PLTS seperti NextEra Energy, EDF, dan ENGIE telah menggunakan model pembelajaran mesin untuk meningkatkan efisiensi fasilitas panel surya.

“Sektor energi terbarukan berada di ambang pertumbuhan substansial, dengan PLTS dan PLTB di garis depan. Selain itu, janji global untuk mengurangi emisi karbon telah menumbuhkan lanskap regulasi yang kondusif bagi investasi dalam alternatif energi yang berkelanjutan ini,” tegas Shiledar.

Prakiraan investasi baru untuk pembangkit listrik tenaga angin (bayu) dan solar panel (dalam US$ miliar) tahun 2020-2030. (GlobalData, Mei 2025)

Pelopor Investasi

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa sistem PLTS siap untuk mempelopori investasi baru, melampaui sektor PLTB di darat maupun offshore. Pada tahun 2024, PLTS sukses mengumpulkan investasi sebesar US$ 329,1 miliar. Sebaliknya, investasi PLTB darat sebesar U$ 151,2 miliar, dan investasi PLTB offshore hanya US$ 69,6 miliar pada akhir 2024.

Ke depannya, PLTB darat diperkirakan tumbuh menjadi US$ 186,9 miliar dan PLTB offshore menjadi US$ 150,4 miliar tahun 2030. Angka-angka ini sesuai dengan CAGR sebesar 4 persen untuk PLTB darat dan 14 persen untuk PLTB offshore. Tentunya, ini menandakan lintasan pertumbuhan yang kuat untuk sumber-sumber energi terbarukan.

“PLTS dan PLTB berada di garda depan segmen energi terbarukan, dengan cepat menjadi kompetitif dari segi biaya dibandingkan bahan bakar fosil tradisional. Tenaga surya dan angin diantisipasi akan mendominasi pembangkitan listrik dalam waktu dekat,” ujar Shiledar menyimpulkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here