Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengapresiasi upaya yang telah dilakukan PT PLN (Persero) dalam menekan susut jaringan listrik nasional. Sejak tahun 2017, susut jaringan pada sistem kelisrikan berada di bawah 10 persen. Dan hingga kini terus menurun.

“Susut jaringan yang semakin rendah menunjukan jaringan yang kian efisien. Listrik yang diproduksipun berarti dikonsumsi dengan baik,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Rida Mulyana, Jum’at (2/3).

Untuk tahun 2020, ujar Rida, Pemerintah memasang target susut jaringan 9,2 persen dan diyakini bisa dicapai. Hal ini mengacu pada realisasi susut jaringan tahun 2019 yang berhasil mencapai target 9,40 persen.

Dia menjelaskan bahwa susut jaringan terus menurun dalam lima tahun terakhir ini. Malahan sudah berada di bawah 10 persen sejak tahun 2017 lalu, yakni 9,75 persen dari 10,34 persen tahun 2016.

“Untuk susut jaringan kita sudah menyusun roadmap hingga 2024. Tentu saja, semakin menurun,” ungkap Rida.

Menurutnya, ada beberapa usaha yang telah dilakukan PLN agar susut jaringan terus menurun. Di antaranya adalah rekonduktoring saluran transmisi, pemasangan kapasitor, pembangunan Gardu Induk dan penambahan jaringan baru.

Tidak hanya itu, PLN juga terus menambah gardu/trafo sisipan, meningkatkan penertiban pemakaian listrik serta penertiban Penerangan Jalan Umum dan sambungan tidak resmi.

Susut jaringan listrik (losses) semakin menurun. Artinya penyaluran listrik semakin baik, sehingga biaya produksi listrik semakin efisien.

Besaran Ideal

Sebelumnya, Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai besaran ideal susut jaringan adalah di bawah 5 persen. Karena itulah, PLN diminta untuk terus melakukan investasi pada pembangunan jaringan tegangan menengah dan rendah.

“PLN perlu menekan susut jaringan yang saat ini masih sebesar 9,2 persen pada sistem kelistrikan Jawa-Bali untuk mengurangi beban perseroan,” ujar Fabby.

Menurutnya, PLN seharusnya menggenjot pembangunan transmisi selain pembangkit di Jawa bagian barat yang bertujuan untuk meningkatkan keandalan pasokan. PLN juga perlu menambah trafo di jaringan tegangan rendah untuk mengurangi tingkat pembebanan yang tinggi.

Pembangunan transmisi memang menjadi salah satu kebutuhan sistem kelistrikan Jawa-Bali seperti yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2019-2028. Selain itu, dalam kebijakan pengembangan transmisi dan gardu induk di sistem Jawa-Bali, PLN merencanakan pembangunan satu gardu induk dalam satu kabupaten atau kota. Sementara untuk akses wilayah yang terkendala, PLN merencanakan pasokan tenaga listrik dari jaringan 20 kV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here