Founder dan Chairman PT Supreme Energy, Supramu Santosa.

Jakarta, Petrominer – Pengembangan panasbumi (geothermal) merupakan usaha yang beresiko tinggi dan membutuhkan waktu penyelesaian sangat panjang. Sebagai contoh adalah pengembangan panasbumi yang dikerjakan PT Supreme Energy di Muara Laboh, Sumatera Barat, dan Rantau Dedap, Sumatera Selatan.

Proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga PanasBumi (PLTP) di kedua daerah tersebut diakui sangat sulit dan beresiko tinggi serta memerlukan waktu penyelesaian masing-masing 12 tahun dan 13 tahun mulai dari survei 3G sampai dengan tercapainya operasi secara komersial. Apalagi, hasil eksplorasi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga kedua proyek tersebut hanya menghasilkan tenaga listrik kurang dari setengah dari yang direncanakan semula.

“Permasalahan utama yang menyebabkan lambatnya pengembangan panas bumi adalah adanya gap antara kelayakan keekonomian investasi dengan kebijakan Pemerintah yang menekankan pada harga energi yang affordable,” ungkap Founder dan Chairman PT Supreme Energy, Supramu Santosa, dalam pernyataan tertullis yang diterima PETROMINER, Minggu (18/9).

Menurut Supramu, hal itu disampaikan saat menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dari Asosiasi Panasbumi Indonesia – Indonesian Geothermal Association (API-INAGA) pada acara The 8th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2022 di Jakarta, Rabu (14/9) lalu. Penghargaan tersebut diterima Supramu berkat sumbangsihnya dalam pengembangan industri panas bumi di Indonesia selama ini.

Terkait penghargaan terebut, Supramu menyampaikan ucapan terima kasih atas penghargaan tersebut. Menurutnya, penghargaan ini juga sebagai apresiasi untuk para partner dan seluruh karyawan Supreme Energy yang sudah berjuang bersamanya dalam mengembangkan panasbumi di Indonesia melalui segala tantangan berat dan panjang.

Dalam kesempatan itu, Supramu menyarankan agar API-INAGA bersama sama investor/pengembang dan Pemerintah harus bekerja bersama mencari solusi atas permasalahan yang ada, yaitu mencari titik temu antara keekonomian investasi PLTP dan harga listrik yang lebih ‘affordable‘. Kontribusi PLTP jangan hanya dilihat sebagai sumber energi yang handal tapi harus dilihat secara utuh, seperti kontribusi terhadap lingkungan dan pembangunan ekonomi daerah.

“Kami telah melewati waktu 12-13 tahun dengan penuh semangat dan keyakinan bahwa panas bumi adalah suatu kebutuhan mutlak untuk medukung ketahanan energi nasional dimasa yang akan datang” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here