Kepala Sekolah Menengan Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Probolinggo, Sunardi.

Jakarta, Petrominer — Nama Sunardi dari Probolinggo, Jawa Timur, memang belum dikenal banyak orang. Padahal, Kepala Sekolah Menengan Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Probolinggo ini telah melakukan beragam inovasi demi menyelenggarakan pendidikan yang berkelanjutan.

Dalam bahasa Sanskerta, Probo memiliki arti sinar; sedangkan Lingga berarti tanda perdamaian. Jika digabungkan, Probolingga memiliki arti sinar sebagai sebuah tanda perdamaian.

Terletak di provinsi Jawa Timur, kota Probolingga atau Probolinggo menjadi jalur utama pantai utara yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Kota yang kaya akan potensi pariwisata ini sayangnya memiliki tantangan dalam bidang pendidikan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Keadaan ini membangkitkan semangat Sunardi untuk melakukan inovasi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di wilayahnya untuk menjaga kelestarian lingkungan, pemanfaatan energi baru terbarukan dan konservasi energi.

Salah satunya, Sunardi sukses memprakarsai pembuatan peralatan tenaga surya yang mengalirkan energi listrik di berbagai sekolah. Tidak hanya itu, bekerjasama dengan warga sekitar yang banyak beternak sapi, dia berhasil membuat biofuel yang dihasilkan dari kotoran sapi. Dari 20 kg kotoran sapi, proyek yang digarapnya dapat menghasilkan energi panas yang dapat digunakan untuk memasak skala besar selama 3 jam.

“Saya ingin menciptakan kemandirian energi. Energi baru yang diciptakan ini harus dapat dinikmati masyarakat secara langsung dan juga ramah lingkungan. Pembinaan ke masyarakat dan berbagai sekolah merupakan sebuah tantangan yang besar di awal. Menciptakan pemahaman dan pemikiran yang sama menjadi kunci keberhasilan proyek ini,” jelas Sunardi.

Pemanfaatan energi baru itu menghasilkan penghematan tagihan listrik bulanan tiap sekolah. Semula, setiap sekolah harus membayar tagihan listrik Rp 28.000.000 hingga Rp 30.000.000 setiap bulannya. Kini, terjadi penurunan biaya hingga 42% menjadi Rp 16.000.000 – Rp 17.000.000 per bulan.

Selain sukses mengembangkan sumber energi baru, ayah empat anak ini juga aktif dalam kegiatan pelestarian dan kebersihan lingkungan.

Dengan menggandeng berbagai sekolah di Probolinggo, dia memperkenalkan sebuah program yang diberi nama “Sagu Sapo”, kepanjangan dari Satu Guru Satu Pohon. Melalui program ini, sebanyak 172 guru dari berbagai sekolah di Probolinggo diajak untuk menanam satu pohon mangrove di pesisir pantai Probolinggo. Selain guru, siswa-siswi dari 20 sekolah di kota ini juga diajak untuk menanam pohon, melalui gerakan “Samu Sapo” (Satu Murid Satu Pohon), yang mengikutsertakan 1.654 peserta.

“Selain penanaman pohon mangrove untuk tujuan konservasi alam, kesadaran untuk merawat alam dan lingkungan juga perlu dibentuk. Kebanyakan warga tahu cara membuat, namun sangat sukar untuk merawat,” ujar Sunardi.

Menjawab tantangan ini, sebuah program bernama “Jumpa Berlian” (Jumat Pagi Bersihkan Lingkungan Anda) menjadi solusinya. Melalui program ini, Pria yang gemar jogging ini mengajak siswa-siswi di Probolinggo untuk bekerjasama membersihkan lingkungan sekolah mereka.

“Saya bangga bahwa sejak tahun 2010, kota Probolinggo telah dianugerahi gelar Kota Adiwiyata karena dinilai telah turut melaksanakan upaya-upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan bagi kepentingan generasi saat ini, maupun yang akan datang. Dahulu masih banyak sekolah yang kumuh, namun saat ini banyak sekolah yang sudah semakin hijau dan sebanyak 20 sekolah telah memenangkan Penghargaan Sekolah Adiwiyata,” jelas Sunardi.

Oleh karena komitmen dan kontribusi nyata ini, Sunardi dianugerahi penghargaan Local Hero kategori “Pertamina Cerdas” oleh PT. Pertamina (Persero), tahun 2014 lalu. Pertamina menilai, bahwa apa yang telah dilakukan Sunardi sangat menginspirasi khalayak luas, untuk mulai peduli terhadap lingkungan serta menciptakan energi baru terbarukan,

Untuk mendukung program ini, pada tahun 2014, Pertamina memberikan bantuan dana yang mendukung SMK Negeri 2 Probolinggo untuk menerima dan mengajar 87 siswa kurang mampu dari Papua dan melanjutkan kuliah.

“Kedepannya, sinergi dengan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat dan pemerintah menjadi hal yang krusial untuk terus menumbuhkan kelompok-kelompok yang peduli terhadap lingkungan.” tutup Sunardi.

Komitmen Sunardi membawa semangat dan sinar baru bari Probolinggo dan Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here