
Berau, Petrominer – SUN memulai pengembangan ekosistem elektrifikasi terintegrasi untuk sektor pertambangan di Kalimantan Timur. Proyek ini mencakup rencana pengembangan pembangkit energi berkapasitas hingga 80 megawatt (MW), sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) sebesar 160 megawatt hours (MWh), serta ekspansi armada lebih dari 1.000 kendaraan listrik.
Pengembangan tersebut ditandai dengan kegiatan groundbreaking sebagai tahap awal pembangunan ekosistem green mining di Berau, Kalimantan Timur, pada 30 Oktober 2026 lalu. Sistem yang disiapkan SUN mengintegrasikan pembangkitan energi terbarukan, penyimpanan energi, infrastruktur pengisian daya, kendaraan listrik, hingga layanan pengelolaan armada.
Director of Mobility SUN, Karina Darmawan, mengatakan elektrifikasi menjadi salah satu strategi bagi perusahaan tambang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ketergantungan pada bahan bakar diesel selama ini menghadirkan tantangan berupa fluktuasi harga, distribusi bahan bakar, dan kepastian pasokan energi.
“Bagi industri pertambangan, elektrifikasi bukan lagi sekadar strategi keberlanjutan, tetapi keputusan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing,” ujar Karina dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Rabu (4/11).
Dalam pengembangan tersebut, SUN merencanakan pemanfaatan PLTS terapung di area void atau bekas galian tambang yang tergenang air. Pembangkit surya ini akan dipadukan dengan BESS berkapasitas 160 MWh untuk menyimpan dan mengelola pasokan listrik sesuai kebutuhan operasional.
Sementara di sektor mobilitas, SUN menyiapkan ekspansi armada hingga lebih dari 1.000 kendaraan listrik. Armada tersebut mencakup kendaraan operasional ringan dan kendaraan untuk mendukung kegiatan logistik pertambangan.
Ekosistem elektrifikasi itu juga dilengkapi stasiun pengisian daya, fasilitas bengkel, layanan pemeliharaan, serta Fleet Management System untuk memantau dan mengelola penggunaan kendaraan.
Lebih lanjut, Karina menjelaskan bahwa SUN telah mengembangkan solusi terintegrasi agar perusahaan tambang tidak perlu membangun infrastruktur elektrifikasi secara terpisah.
“Yang terpenting adalah memastikan seluruh ekosistemnya siap, termasuk pasokan energi, charging station, workshop, maintenance, dan sistem pengelolaan armada,” ungkapnya.
Untuk mempermudah adopsi, SUN menawarkan model bisnis Electrification as a Service. Melalui skema ini, perusahaan tambang dapat memanfaatkan solusi elektrifikasi tanpa investasi modal awal (upfront CAPEX), sesuai cakupan layanan dan kesepakatan kerja sama.
SUN menyediakan layanan mulai dari perencanaan dan pembangunan infrastruktur, penyediaan teknologi, hingga pengelolaan dan pemeliharaan operasional. Dengan demikian, perusahaan tambang dapat lebih berfokus pada kegiatan bisnis utamanya.
Menurut Karina, elektrifikasi tidak sebatas mengganti kendaraan berbahan bakar diesel dengan kendaraan listrik. Kesiapan pasokan energi, infrastruktur pengisian, pemeliharaan, dan pengelolaan armada menjadi faktor penting agar sistem dapat berjalan optimal.
SUN menilai integrasi energi terbarukan dan kendaraan listrik berpotensi membantu perusahaan tambang mengoptimalkan biaya energi, mengurangi ketergantungan pada distribusi diesel, serta meningkatkan efisiensi operasional.








Tinggalkan Balasan