
Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menargetkan peningkatan kapasitas terpasang panas bumi menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028, dari posisi saat ini sebesar 727 megawatt (MW). Untuk mencapai target tersebut, perusahaan mempercepat pengembangan 12 proyek dengan total kapasitas 320 MW.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan pencapaian target tersebut menjadi tonggak penting dalam strategi pertumbuhan perusahaan. PGE juga membidik peningkatan kapasitas hingga 1,8 GW pada 2033 melalui pengembangan proyek baru, optimalisasi aset, dan penguatan portofolio investasi.
“Optimisme ini didukung fondasi bisnis yang solid, tercermin dari rekor produksi dan pertumbuhan kinerja keuangan Perseroan hingga September 2026,” ujar Ahmad Yani, Rabu (4/11).
Dari 12 proyek yang disiapkan, PGE mengakselerasi lima proyek berkapasitas total 105 MW yang semula dijadwalkan beroperasi setelah 2028. Salah satu proyek utama dalam portofolio tersebut adalah Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2028.
Selain mengejar target 1 GW, PGE menyiapkan portofolio pengembangan panas bumi dengan potensi kapasitas hingga 3 GW. Portofolio tersebut mencakup proyek brownfield dan greenfield, termasuk sejumlah proyek yang telah memperoleh Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) atau Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract/SSC).
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, menjelaskan percepatan proyek dilakukan dengan menjalankan sejumlah tahapan teknis secara paralel. Langkah tersebut mencakup penyelesaian studi, pengeboran dan pengujian sumur, persiapan konstruksi, serta penyelesaian aspek komersial dan pembiayaan.
“Strategi akselerasi kami berfokus pada percepatan tahapan kritis proyek, mulai dari penyelesaian studi teknis, pengeboran dan pengujian sumur, hingga persiapan konstruksi. Di saat yang sama, kami juga mendorong kepastian PPA dan kesiapan pembiayaan agar tambahan kapasitas pembangkit dapat direalisasikan sesuai target,” kata Edwil.
Optimisme tersebut ditopang kinerja operasional PGE yang mencatatkan produksi energi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) sepanjang Januari–September 2026. Angka ini merupakan rekor tertinggi perusahaan dan meningkat 9,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat ketersediaan pembangkit (Availability Factor) mencapai 98,51 persen, sedangkan Forced Outage Rate tercatat 0,21 persen.
Dari sisi keuangan, pendapatan PGE naik 10,46 persen menjadi US$352,20 juta, sementara laba bersih meningkat 21,45 persen menjadi US$ 126,62 juta. EBITDA juga tumbuh 15,58 persen menjadi US$ 287,77 juta. Pada periode yang sama, kas dan setara kas mencapai US$ 713,68 juta.
Pengembangan tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan pemanfaatan potensi panas bumi Indonesia yang diperkirakan mencapai 24 GW. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit panas bumi sebesar 5,2 GW.








Tinggalkan Balasan