,

Sumpah Pemuda, Momentum Merajut Kembali Merah Putih yang Terkoyak

Posted by

Jakarta, Petrominer – Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menyelenggarakan seremonial peringatan Hari Sumpah Pemuda dengan mengajak seluruh elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke untuk mengucapkan ikrar yang sama, yakni Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Peringatan kali ini juga diharapkan bisa menjadi momentum untuk kembali menyatukan rakyat Indonesia yang terlihat terpecah belah.

Menurut Presiden FSPPB Arie Gumilar, momentum hari ini sama dengan peristiwa tahun 1928. Sumpah pemuda adalah ikrar pendahulu bangsa pada tahun 1928 yang menyatakan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Tujuhbelas tahun kemudian, Indonesia Merdeka.

“Ketika bangsa kita saat ini sedang tidak baik-baik saja, maka saatnya seluruh elemen anak bangsa berikrar kembali menyatakan bahwa seluruh pemuda-pemudi dan putra putri Indonesia bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia,” tegas Arie saat merayakan Hari Sumpah Pemuda di depan gedung Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Kamis (28/10).

Dalam perayaan ini, FSPPB membawa simbol berupa bendera merah putih berukuran jumbo. Bendera ukuran 30×50 meter digambarkan sebagai negara Indonesia yang besar.

“Ini simbol negara kita negara yang besar. Telah melalui perjalanan sejarah yang panjang. Seperti ukuran bendera merah putih dengan ukuran jumbo ini sudah melalui perjalanan panjang, dari Sabang hingga Merauke. Bahkan telah berkeliling dunia. Hari ini bendera merah putih dalam ukuran jumbo sudah terkoyak. Sudah banyak yang robek. Ini juga gambaran bangsa kita saat ini. Sudah banyak kerusakan yang timbul,” tegasnya.

Oleh sebab itu, tema besar seremonial yang diusung FSPPB adalah Merajut Kembali Merah Putih yang Terkoyak. Bukan dengan benang emas, bukan dengan tambang tetapi dengan persatuan dan kesatuan.

“Persatuan dan kesatuan ini merajut bendera yang terkoyak,” ujar Arie dengan nada berapi-api.

Dalam peringatan ini, dia juga menyinggung kedaulatan energy yang menjadi salah satu bagian kedaulatan dari sebuah negara. Sebuah negara akan berdaulat paling tidak memiliki tiga kedaulatan, yaitu kedaulatan pangan, kedaulatan ekonomi dan kedaulatan energi.

“Indonesua kaya energi bukan hanya fosil seperti minyak bumi, batubara tetapi juga energi baru terbarukan yang sangat potensi besar. Ada 482 Gigawatt potensi energi terbarukan di negeri ini. Belum termasuk energi baru dari uranium, plutonium, dan torium, yang baru-baru ini ditemukan. Ini mutlak harus dikuasai oleh negara,” ungkap Arie.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *