Fachry Latief
Terminal BBM Jakarta Group Plumpang milik PT Pertamina (Persero). (Petrominer/ Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer — Para sopir truk tanki bahan bakar minyak (BBM) diminta untuk lebih mementingkan masyarakat luas ketimbang melanjutkan rencana aksi mogok kerja. Apalagi karena dilakukan menjelang lebaran, dikhawatirkan aksi tersebut bisa ditunggangi muatan politis.

Seperti disampaikan Ekonom INDEF Drajad Wibowo yang menyayangkan rencana aksi mogok sopir tersebut. Menurutnya, menjelang dan setelah Idul Fitri, lalu lintas barang dan orang meningkat tajam, dan semuanya membutuhkan energi.

“Kalau pasokan BBM sebagai sumber energi terganggu, maka lalu lintas barang dan orang juga akan mengalami gangguan yang luar biasa,” katanya ketika dihubungi, Rabu (21/6).

Dalam kesempatan itu, Drajad juga menyatakan memahami bahwa para sopir tanki tersebut membutuhkan perhatian. Tetapi, lanjutnya, jangan hanya karena tuntutan tersebut, mereka memilih pada saat momen Lebaran.

“Harusnya koordinator para sopir tidak hanya memikirkan kepentingan mereka, tetapi harus mementingkan masyarakat lebih luas,” tegas Drajad.

Di sisi lain, mantan anggota DPR RI ini mengingatkan bahwa dampak mogok sangat tergantung jumlah pendemo. Jika dilakukan hanya beberapa orang, maka dampaknya tidak besar. Namun kalau dalam jumlah banyak, tentu dampaknya sangat luar biasa, bahkan bisa lebih parah dari kasus Brexit tahun lalu.

“Tetapi saya percaya, Pertamina dan aparat tidak akan tinggal diam,” kata Drajad.

Muatan Politis

Sementara itu, pengamat politik senior Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit menilai, bahwa ancaman sopir truk tanki BBM tersebut penuh muatan politis. Alasannya, hal itu dilakukan menjelang Lebaran, yang memang menjadi momen penting di mana puluhan juta masyarakat melakukan mudik.

“Banyak pihak akan memanfaatkan isu ini untuk kepentingan sendiri. Tidak hanya DPR tetapi juga LSM,” kata Arbi.

Menurutnya, dipakainya isu mogok kerja sopir truk tanki memang sangat seksi dan mudah dimanfaatkan untuk kepentingan politis. Pasalnya isu tersebut bisa dipersepsikan merugikan sekelompok masyarakat kelas bawah.

“Jadi isu apapun akan dipakai, sepanjang merupakan isu-isu yang populer. Di antaranya terkait rencana mogok kerja sopir truk tanki pengangkut BBM,” paparnya.

Penggunaan berbagai isu tersebut, lanjut Arbi, tak lepas dari kondisi negeri ini sekarang yang saling menunggangi. DPR misalnya, sedang mencari popularitas dengan mencari-cari kesalahan Pemerintah. Begitu pula Pemerintah, melalui fraksinya di DPR juga mencoba mempengaruhi wakil rakyat. Bahkan, LSM pun seperti tak mau ketinggalan ikut-ikutan memanfaatkan isu tersebut.

“LSM kan sama saja penyakitnya. Mereka mencari popularitas,” katanya mengingatkan.

Untuk itu, Arbi menyayangkan munculnya rencana tersebut. Pasalnya, rakyat juga yang akan menjadi korban atas rencana mogok kerja sopir truk tanki BBM tersebut. Apalagi digelar saat Lebaran seperti sekarang ini, ketika puluhan juta warga melakukan mudik bersama keluarga.

“Kasihan sebenarnya rakyat. Mereka menjadi korban atas rencana tersebut yang notabene sudah ditunggangi kepentingan politik. Harusnya semua sadar, bahwa ketika kasus ini muncul, maka kalangan elit tidak memecahkan masalah bersama-sama. Tetapi memperalat masalah itu, untuk mendapatkan popularitas,” ujar Arbi.

Meski begitu, para pemudik yang sempat dihubungi mengaku belum merasakan dampak dari rencana aksi mogok sopir tanki BBM tersebut.

Retno Savitri, guru di sebuah SMPN di Jakarta Timur, mengaku tak terpengaruh dengan rencana mogok tersebut. Retno bersama Adi, suaminya, sedang melakukan perjalanan mudik ke Solo. Dia percaya bahwa di berbagai SPBU, BBM tetap tersedia dengan jumlah cukup.

Retno hanya berharap tak ada gangguan yang ditimbulkan dari aksi tersebut. Kalau tidak, yang rugi bukan hanya masyarakat namun juga pendemo itu sendiri.

“Makanya, batalkan saja rencana mogok itu. Harusnya mereka menghormati umat muslim yang merayakan Idul Fitri dan mudik ke kampung halaman,” kata warga Cilangkap tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here