Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Rida Mulyana. (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Fokus pemerintah saat ini adalah memperbaiki defisit neraca perdagangan, khususnya di sektor Pertambangan. Oleh karena itu, industri di dalam negeri harus didukung pengembangannya. Salah satunya adalah tersedianya pasokan listrik yang memenuhi aspek 5K, yakni kecukupan, keandalan, keberlanjutan, keterjangkauan, keadilan.

“Kami meyakini listrik menjadi infrastruktur dasar yang harus ada terlebih dulu sebelum industri penggunanya,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rida Mulyana, dalam Rapat Koordinasi Kesiapan PT PLN (Persero) Melistriki Industri Smelter, Jum’at (20/12).

Rida menjelaskan, rapat koordinasi ini dilakukan untuk menyelaraskan apa yang dikebut PLN sama dengan yang dikebut industri smelter. Dengan begitu, efektifitas dan efisiensi bisa lebih terjaga

Dalam kesempatan itu, dia mengajak para pelaku usaha smelter untuk menjadi pelanggan PLN karena pasokan listrik PLN cukup di semua sistem kelistrikan. Apalagi, supply dan demand listrik diatur dalam RUPTL, dan telah dilakukan beberapa upaya antara lain interkoneksi Sumatera-Jawa.

Rida juga menegaskan bahwa saat ini, tarif listrik Indonesia, khususnya tarif industri besar, sangat kompetitif jika dibandingkan negara-negara ASEAN. Dan ke depan, tarif industri PLN juga lebih kompetitif.

“PLN menawarkan smelter menjadi pelanggan premium. Dengan menjadi pelanggan premium, listrik dipasok oleh dua gardu dan dijamin tidak mati,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri ESDM, Triharyo Soesilo, mengajak badan usaha smelter untuk merealisasikan industri smelter-nya. Dalam upaya mencari pendanaan dan investor industri smelter, Kementerian ESDM sedang mempromosikan pengembangan industri smelter kepada lembaga keuangan, BUMN, dan perusahaan tambang international.

Sementara Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Yunus Saefulhak, menjelaskan bahwa saat ini industri besar dipermudah dengan sistem perizinan online, dan diharapkan produk produk industri khususnya smelter dapat terus bertumbuh.

“Dalam menghadapi era industri 4.0, semua perizinan sekarang online, ini tentu akan memudahkan semua pihak, disamping itu dengan kesiapan listrik PLN melalui 35 ribu MW, maka para pemilik smelter harus manfaatkan sebaik mungkin karena kami prioritaskan listrik dari PLN,” papar Yunus.

Menurutnya, program 35 ribu MW merupakan tugas bersama. Tidak hanya membangun megaproyek kelistrikan tersebut oleh PLN, namun juga tugas untuk memanfaatkan sebaik-baiknya kapasitas listrik yang tersedia sehingga akan terus menumbuhkan perekonomian Indonesia secara signifikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here