Jaringan transmisi listrik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kilo Volt (kV).

Jakarta, Petrominer – Direktorat Jenderal (Ditjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pengembangan Smart Grid untuk diterapkan di Indonesia. Untuk itu, Smart Grid akan dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) tahun 2021-2030.

Smart Grid menjadi bagian dalam perencanaan pada RUPTL 2021-2030 dengan target lima lokasi setiap tahun,” ujar Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Jisman Hutajulu, dalam sebuah acara webinar, Jum’at (19/21).

Dalam webinar ini, International Energy Agency (IEA) memberikan pandangannya mengenai Smart Grid. Webinar kali ini menjadi yang pertama kali dilaksanakan dalam rangkaian webinar Smart Grid. 

“Kami mengapresiasi kapasitas dan pengalaman IEA dalam pengembangan Smart Grid. Kami berharap kita dapat belajar dari pengalaman negara-negara lain yang telah berhasil mengintegrasikan teknologi Smart Grid ke dalam sistem ketenagalistrikan mereka,” ungkap Jisman.

Menurutnya, untuk membangun Smart Grid tersebut diperlukan pengetahuan dan persamaan persepsi antar-pemangku kepentingan (stakeholder). Karena itulah, Pemerintah mengakui perlunya masukan dari berbagai pihak dalam pembuatan roadmap Smart Grid.

“Kami meminta masukan juga dari PT PLN (Persero), PT PJB, dan PT Indonesia Power sebagai operator di sektor ketenagalistrikan dalam penyusunan roadmap Smart Grid ini,” ujar Jisman.

Sebelumnya, Randi Kristiansen dari IEA menyampaikan bahwa dalam perencanaan roadmap Smart Grid, perubahan hardware (perangkat keras) saja tidaklah cukup.

“Selain hardware, penting bagi kita untuk mulai berinvestasi dalam prosedur operasional, serta kebijakan dan kelembagaan,” ujar Randi.

Dia mengatakan sistem ketenagalistrikan perlu memberikan penghargaan dan insentif pada kontribusi yang diberikan oleh aset dan teknologi. Dia mencontohkan Australia, Irlandia, dan Chile sebagai negara yang menyesuaikan pasar mereka untuk mencapai hal tersebut.

Randi juga menyebut perlunya membuat roadmap Smart Grid yang berbeda-beda tergantung sistem ketenagalistrikan. Karena itulah, sistem ketenagalistrikan yang besar dan kecil tentu memiliki tantangan yang berbeda pula.

Dalam kesempatan yang sama, Zainal Arifin dari PLN memaparkan pilot project pengembangan Smart Grid oleh PLN. Program ini telah dimulai sejak tahun 2014 melalui meteran listrik dengan komunikasi dua arah di Jakarta.

“Proyek Smart Grid PLN umumnya fokus pada pengembangan manajemen energi, keandalan listrik melalui otomasi, serta integrasi dengan energi baru terbarukan,” ujar Zainal.

Menurutnya, Pemerintah telah memberikan dukungan regulasi untuk pengembangan Smart Grid dengan mengeluarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 143 K/20/MEM/2019, Kepmen ESDM Nomor 39 K/20/MEM/2019, dan Peraturan Presiden Nomor 18/2020.

Untuk jangka pendek (2021-2025), papar Zainal, PLN fokus pada keandalan, efisiensi, pengalaman pelanggan, dan produktivitas jaringan. Sementara mulai tahun 2026, PLN akan fokus pada ketahanan, keterlibatan pelanggan (customer engagement), keberlanjutan, dan self-healing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here