, ,

SKK Migas Diminta Perjelas Offtaker Gas Blok Masela

Posted by

Jakarta, Petrominer – Anggota Komisi VII DPR RI meminta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk memperjelas perkembangan offtaker atau pembeli gas yang akan diproduksi oleh Blok Abadi Masela, Provinsi Maluku. Pasalnya, hingga saat ini, SKK Migas belum mengumumkan secara terbuka offtaker gas dari blok migas tersebut.

Menurut Anggota Komisi VII, Saadiah Uluputty, kejelasan offtaker ini penting karena kegagalan penyerapan hasil produksi gas akan berdampak negatif.

“Jangan sampai ketika lapangan sudah siap berproduksi, pembeli belum siap menyerapnya. Ini akan menghalangi pencapaian target lifting nasional,” ujar Saadiah dalam rapat kerja Komisi VII dengan SKK Migas, Kamis (16/1).

Target produksi atau lifting minyak dan gas bumi disorot oleh anggota DPR dari Fraksi PKS ini. Pasalnya, review atas capaian lifting migas nasional tahun 2019 lalu tidak memenuhi target yang telah ditetapkan di APBN.

Saadiah mencontohkan, laporan kinerja SKK Migas terkhusus lifting Migas nasional pada APBN 2019 ditarget sebesar 775 ribu barel per hari (BOPD). Namun faktanya, hingga Desember 2019, hanya tercapai 746 ribu BOPD atau 96,3 persen.

Hal serupa juga terjadi pada lifting gas yang ditargetkan 7.000 MMSCFD, namun hanya mampu tercapai 5.926 MMSCD atau hanya 84,8 persen.

“Jika ditotal, target lifting minyak dan gas bumi hanya tercapai sebesar 90,5 persen dari target APBN 2019,” tegasnya.

Saadiah menyebut, review atas capaian lifting migas beberapa tahun belakang trendnya memang semakin seret.

“Produksi migas Indonesia semakin tidak menggembirakan. Realisasi lifting migas tahun 2017 mencapai 98,9 persen dari target APBN 2017. Di tahun 2018,hanya  96 persen. Data kinerja lifting tahun 2019 jarak semakin melemah, hanya 90,5 persen dari target APBN 2019,” paparnya.

Saadiah meminta agar SKK Migas lebih serius menjaga lifting migas Indonesia. SKKMigas juga diminta memberi perhatian serius. Pasalnya, penurunan produksi migas ini sudah memprihatinkan.

Menurutnya, berbagai faktor penyebab kegagalan produksi migas harus diantisipasi dan diatasi dengan baik. Salah satu faktor utama yang menyebabkan tidak tercapainya lifting migas ini adalah terjadinnya kebocoran pipa di beberapa lapangan produksi, diantaranya di Blok Cepu yang menyebabkan hilangnya potensi lifting minyak sebesar 2,9 ribu BOPD.

Selain itu, terjadi kebocoran pipa gas di Blok Southeast Sumatera (SES) yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi SES, yang menyebabkan terjadinya kekurangan pasokan gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Cilegon seebsar 56 BBTUD.

“Kebocoran pipa harus dicegah melalui inspeksi rutin yang bagus, serta segera ditangani jika kebocoran tersebut sudah terjadi,” tegas Saadiah.

Dia juga mendesak agar SKK Migas membuat perencanaan pengembangan secara rinci atas potensi potensi baru sumber minyak dan gas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *