Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (memegang sekop) melakukan peletakan batu pertama fasilitas daur ulang botol plastik di Cikarang, Jawa Barat, Senin (5/4). Fasilitas ini merupakan kerja sama Coca-Cola Amatil Indonesia dengan Dynapack Asia yang berfungsi mengoperasikan fasilitas rPET untuk mengolah kembali limbah Polyethylene Terephthalate (PET) berkualitas rendah menjadi PET berkualitas tinggi.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian mendukung para pelaku industri mewujudkan ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Seperti yang dilakukan Coca-Cola Amatil Indonesia dan Dynapack Asia. Kedua pabrik ini mengolah kembali kemasan plastik kemasan minuman menjadi pelet plastik yang aman dipakai.

“Industri daur ulang plastik nasional memiliki peranan yang penting dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dan meningkatkan daya saing industri plastik hilir dalam negeri, di samping pelestarian lingkungan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada peresmian pabrik plastik daur ulang di Kawasan Industri Deltamas Cikarang, Jawa Barat, Senin (5/4).

Pabrik ini merupakan kerja sama Coca-Cola Amatil Indonesia dengan Dynapack Asia. Fasilitas rPET ini dioperasikan oleh PT Amandina Bumi Nusantara untuk mengolah kembali limbah Polyethylene Terephthalate (PET) berkualitas rendah menjadi PET berkualitas tinggi.

Menurut Agus, plastik masih menjadi pilihan utama bahan baku kemasan bagi industri makanan dan minuman. Pasalnya, bahan ini punya keunggulan dari sisi higienitas, mudah dibentuk, massa yang ringan, mampu menjaga kualitas produk, serta aman dalam proses transportasi.

Hal tersebut didukung oleh data konsumsi plastik dunia, yang menyebutkan sebesar 39 persen didominasi penggunaannya untuk kemasan pangan. Meski begitu, Indonesia masih berada di peringkat terbawah penggunaan plastik dunia, jauh di bawah USA, China, dan Jepang.

Saat ini, kebutuhan bahan baku plastik nasional mencapai 7,2 juta ton per tahun. Sebanyak 2,3 juta ton bahan baku berupa virgin plastic lokal disuplai oleh industri petrokimia dalam negeri. Sedangkan kebutuhan bahan baku industri daur ulang plastik nasional sekitar 2 juta ton, dengan pasokan dalam negeri 913 ribu ton dan sisanya impor.

“Industri daur ulang plastik dapat menghasilkan berbagai produk bernilai tambah dengan potensi ekonomi mencapai lebih dari Rp 10 triliun per tahun dan potensi ekspor produk turunan daur ulang plastik yang mencapai US$ 141,9 juta,” ungkap Agus.

Karena itu, Pemerintah telah menyiapkan regulasi baik dalam rangka pemberian insentif dan disinsentif, termasuk pengawasan dan pengendalian regulasi yang ditetapkan, serta penyediaan sarana prasarana pengumpulan sampah plastik. Namun, produsen bahan kemasan plastik harus melakukan Reseach and Development (R&D) untuk menghasilkan bahan kemasan plastik yang ramah lingkungan dengan komitmen time frame yang jelas.

Selanjutnya, industri makanan minuman sebagai pengguna kemasan plastik juga harus menggunakan kemasan plastik secara efisien dan melakukan upaya-upaya untuk mengelola sampah plastik menjadi produk lain yang bernilai ekonomi. Mereka juga didorong untuk membantu Pemerintah dalam melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan kemasan plastik.

Selain itu, Pemerintah perlu menyediakan sarana prasarana dengan membangun unit-unit pengolahan sampah plastik skala IKM bekerja sama dengan pelaku usaha. Ini memungkinkan dengan memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR) serta melibatkan masyarakat, sehingga konsep circular economy dapat berjalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here