Jakarta, Petrominer – Tiga badan usaha milik negara (BUMN) dan satu perusahaan swasta sepakat untuk menggarap usaha hilirisasi batubara menjadi produk akhir yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Disepakati untuk membangun pabrik pengolahan gasifikasi batubara di mulut tambang batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
Adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, yang sepakat merealisasikan rencana itu. Sebuah Head of Agreement Hilirisasi Batubara pun telah ditandatangani di Jakarta, Jum’at (8/12).
Kesepakatan awal itu ditandatangani oleh Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin, Direktur Utama Pertamina, Elia Massa Manik, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat, dan Presiden Direktur Chandra Asri Petrochemical Erwin Ciputra, dengan disaksikan oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno.
Berdasarkan kesepakatan itu, batubara dari PTBA akan diubah melalui teknologi gasifikasi menjadi produk akhir yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Batubara muda akan dikonversi menjadi Syngas, yang selanjutnya bisa diproses lebih lanjut menjadi tiga produk turunannya. Pertama, Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar. Kedua, SynGest sebagai bahan baku urea, dan terakhir Polypropylene sebagai bahan baku plastik.
Sinergi ketiga BUMN dan perusahaan swasta ini merupakan salah satu bentuk implementasi PP No. 1 tahun 2017 tentang Hilirisasi Mineral dan Batubara, serta Kepmen ESDM no. 2183 K/30/MEM 2017 tentang Penetapan Kebutuhan dan Presentasi Minimal Penjualan Batubara untuk Kepentingan Dalam Negeri.
Kerjasama ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah batubara sehingga batubara tidak hanya dijual sebagai produk akhir, tetapi dijadikan sebagai bahan baku. Selain itu, diharapkan dengan kerjasama ini juga dapat meningkatkan sinergi antar BUMN, dan mampu menciptakan efisiensi dalam industri batubara, gas, pupuk dan kimia.
“Kami ingin menciptakan nilai tambah, mentransformasi batubara menjadi ke arah hilir dengan teknologi gasifikasi, dengan menciptakan produk akhir yang memiliki kesempatan nilai jual lebih tinggi dibandingkan sekadar produk batubara. Dengan demikian, hal ini diharapkan akan semakin menguntungkan perusahaan,” ujar Arviyan.
Untuk menunjang kerjasama ini, akan dibangun pabrik pengolahan gasifikasi batubara pada Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) yang berada di mulut tambang batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan. BACBIE akan berada pada satu lokasi yang sama dengan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8.
PTBA Bersama Pertamina, Pupuk Indonesia, dan Chandra Asri Petrochemical akan mempersiapkan pelaksanaan studi kelayakan, Amdal, dan persiapan pendanaan untuk melakukan proses pengadaan Engineering Procurement Construction (EPC) pabrik pengolahan tersebut.
Pabrik pengolahan itu direncakanan mulai beroperasi pada Nopember 2022. Diharapkan produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar sebesar 500 ribu ton urea per tahun, 400 ribu ton DME per tahun dan 450 ribu Polypropylene per tahun. Dengan target pemenuhan kebutuhan sebesar itu, diperkirakan kebutuhan batubara sebagai bahan baku sebesar 5,5 juta ton per tahun.
Menurut Elia Massa Manik, kerjasama ini sebagai langkah strategis bagi semua pihak, untuk kepentingan ketahanan energi nasional, dalam pemanfaatan DME sebagai bahan bakar, serta pengembangan bisnis petrokimia hasil olahan dari batubara.
“Kita akan memanfaatkan sumber daya di dalam negeri yang belum termanfaatkan berupa low rank coal yang ketersediaannya sangat melimpah hingga 50 tahun ke depan,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Aas Asikin Idat. Dia pun berharap kerjasama ini memeberikan hasil terbaik dalam rangka sinergi antar BUMN, serta berharap batubara yang dimanfaatkan dapat digunakan menjadi bahan baku urea.
“Melalui kerjasama ini, industri pupuk berharap dapat memanfaatkan batubara sebagai pengganti gas dan bahan baku pupuk urea,” tegasnnya.
Sementara Erwin Ciputra menambahkan bahwa Polypropylene berbasis batubara ini dapat membantu Indonesia dalam memenuhi kebutuhan Polypropylene domestik.
“Saat ini, produksi Polypropylene belum mencukupi kebutuhan dalam negeri sehingga kerjasama ini akan mengurangi impor yang jumlahnya masih besar dan terus meningkat,” ujarnya.








Tinggalkan Balasan