Setahun, Kapasitas Produksi Sepeda Motor Lisrik Capai 1 Juta

0
730
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan test ride sepeda motor listrik VIAR New Q1 disaksikan General Manager VIAR Motor Dimas Tommy Radityo (kedua kiri) dalam kunjungan kerja ke PT Triangle Motorindo (VIAR Motor) di Semarang, Jawa Tengah, Jum'at (14/10).

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian mencatat kapasitas produksi sepeda motor listrik sudah mencapai satu juta unit per tahun. Capaian ini karena didukung oleh produsen sepeda motor listrik dari 35 perusahaan kendaraan listrik. Ini juga sesuai dengan permintaan Presiden Joko Widodo agar dalam waktu singkat produksi kendaraan roda dua listrik bisa mencapai dua juta unit pada tahun 2025.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan Kemenperin mendorong industri otomotif agar dapat menghasilkan beragam produk inovatif dengan teknologi kendaraan listrik mutakhir. Para produsen kendaraan listrik juga terus diminta untuk mengoptimalkan penggunaan komponen dalam negeri sehingga secara langsung akan meningkatkan nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

“Pengoptimalan nilai komponen lokal ini dapat meningkatkan potensi pasar kendaraan menyusul diterbitkannya Inpres No 7 Tahun 2022,” ujar Agus saat kunjungan kerja ke PT Triangle Motorindo (VIAR Motor) di Semarang, Jawa Tengah, Jum’at (14/10).

Seperti diketahui, dalam upaya menciptakan market sekaligus memperbesar populasi kendaraan listrik di Indonesia, Pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022 tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) sebagai Kendaraan Dinas Operasional dan/atau Kendaraan Perorangan Dinas Instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Upaya tersebut sesuai amanat Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 6 tahun 2022 tentang Spesifikasi, Peta Jalan Pengembangan, dan Ketentuan Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle).

“Dengan demikian, kendaraan listrik yang telah memenuhi batasan minimal TKDN sesuai Perpres 55 Tahun 2019 dapat mengisi permintaan kendaraan dinas dan operasional pemerintah sesuai Inpres 7/2022,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, General Manager VIAR Motor, Dimas Tommy Radityo, menjelaskan pabrik VIAR berdiri sejak tahun 2000 di Kawasan Terboyo, Semarang. Seiring dengan semakin berkembangnya bisnis usaha Viar Motor, perusahaan melakukan relokasi ke Kawasan Industri Bukit Semarang Baru (BSB) pada Maret 2011 untuk meningkatkan sistem produksi, kapasitas produksi, dan kualitas produksi.

“Pabrik baru seluas 20 hektare ini berkapasitas produksi hingga 1000 unit per hari sehingga menjadikan kami sebagai salah satu pabrik otomotif terbesar di Indonesia. Perusahaan juga terus meningkatkan hilirisasi industri komponen dalam negeri untuk menjadi bagian dari rantai pasok VIAR,” papar Dimas.

Pada tahun 2017, VIAR Motor meluncurkan sepeda motor listrik dengan merek Q1. Motor listrik ini lebih dari 6.000 unit telah digunakan oleh Grab sebagai armada operasional para drivernya di delapan kota besar. Di sini menunjukkan ketahanan dari unit Viar Q1 yang dibuktikan dengan durasi operasional pada driver yang mencapai lebih dari 100 km per hari.

Dimas berharap, Viar Motor sebagai produk anak bangsa bisa diterima masyarakat luas di Indonesia. Apalagi secara kualitas, sebenarnya produk dalam negeri bisa bersaing dengan produk asing. Namun, yang diperlukan oleh produk dalam negeri adalah dukungan riil dari pemerintah, untuk ikut membantu menanamkan kebanggan masyarakat dalam menggunakan produk dalam negeri.

“Triangle Motorindo saat ini sudah memproduksi kendaraan roda dua berbahan bakar bensin maupun yang berbasis Battery (EV), dan sepeda motor roda tiga angkutan barang bagi pelaku usaha UMKM dan pertanian. Saat ini, kami bekerjasama dengan IKM lokal Jawa Tengah menjadi bagian supply chain kami dalam rangka peningkatan kandungan TKDN. Kami berharap ada keberpihakan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dimas mengemukan bahwa pihaknya membutuhkan dukungan dari stakeholder terkait, termasuk  pemerintah, agar edukasi terus dijalankan bersama-sama pihak industri. Dukungan infrastruktur juga dibutuhkan agar penempatan Battery Swap Station di public space digratiskan, sehingga memberikan stimulan bagi industri kendaraan dan industri baterai di Indonesia.

“Ke depan, kami yakin dengan banyaknya battery swap station dan SPKLU akan meyakinkan masyarakat untuk konversi menggunakan kendaraan listrik,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here