Pemaparan kondisi aktivitas Gunung Agung dan KRB terhadap para Kepala Desa yang berada pada kawasan berpotensi terlanda bahaya, taggal 30 September 2017.

Jakarta, Petrominer – Sejak level aktivitasnya naik dari Level III (SIAGA) menjadi Level IV (AWAS) terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA, Gunung Agung sontak menjadi perhatian seiring peningkatan aktivitas kegempaan yang terjadi.

Pemerintah pusat, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi gunung berarpi di Pulau Bali tersebut. Berbagai rapat koordinasi pun terus dilakukan bersama pihak terkait lainnya. Tidak hanya itu, Kementerian ESDM juga terus menerus melakukan sosialisasi mengenai Kawasan Rawan Bencana (KRB) kepada masyarakat, terutama mereka yang tinggal di kawasan terdampak.

“Hari ini kami melaksanakan rapat koordinasi (rakor) rencana pemulangan pengungsi di luar zona aman bersama Incident Commander dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” tutur Kepala PVMBG, Kasbani, akhir pekan lalu.

Sebelumya, menurut Kasbani, rakor serupa juga dilakukan bersama Gubernur dan Kepala BNPB membahas pemulangan pengungsi yang berasal dari luar Zona Bahaya pada status Level IV (AWAS). PVMBG juga menyampaikan informasi perkembangan aktivitas Gunung Agung pada Rakor harian di Posko Utama Tanah Ampo serta menginformasikannya melalui media cetak maupun elektronik, dalam dan luar negeri.

“Tak lupa sosialisasi aktivitas Gunung Agung juga disampaikan kepada komunitas pengusaha perhotelan dan pariwisata di Kabupaten Badung,” lanjutnya.

Sabtu lalu (7/10), pukul 00.00 hingga 06.00 WITA, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM mencatat setidaknya terjadi 65 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 125 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 25 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Kegiatan verifikasi laharan melalui identifikasi jejak lahar Gunung Agung di sektor tenggara (sekitar kota Amlapura) tanggal 1 Oktober 2017.

PVMBG juga berperan dalam penentuan jalur evakuasi bersama para pemangku kepentingan (stakeholders) di bawah koordinasi BNPB serta menyusun Rencana Kontinjensi potensi bahaya lahar dan sebaran abu. Bersama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), PVMBG telah melakukan koordinasi terkait data meteorologi yang diperlukan dalam pemodelan produk erupsi.

Secara intensif PVMBG juga melalukan peninjauan dari udara maupun di darat untuk melakukan verifikasi area yang berpotensi terlanda bahaya. “Sosialisasi peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Agung kepada para Kepala Desa yang wilayahnya termasuk ke dalam Kawasan Rawan Bencana juga kami lakukan guna memberikan pemahaman yang komprehensif. Hal ini akan mempercepat koordinasi di lapangan,” terang Kasbani.

Dia mengungkapkan, sosialisasi akan terus dilanjutkan terutama kepada masyarakat yg ada di pengungsian dan dilaksanakan di bawah koordinasi BNPB. Kementerian ESDM sendiri juga telah membentuk Tim Siaga Bencana yg saat ini terus berkoordinasi dg PLN dengan Pertamina melakukan berbagai macam simulasi untuk menjamin ketersediaan listrik dan BBM apabila kondisi terburuk terjadi.

Mengingat masih berstatus AWAS, PVMBG menghimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here