Jakarta, Petrominer – Pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) terus memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pembangkit listrik di Indonesia. Sejak tahun 2011, pembangkit listrik EBT tercatat mengalami peningkatan rata-rata 10 persen setiap tahun.
“Catatan ini adalah bukti komitmen Pemerintah dalam mengembangkan EBT. EBT juga harus menarik bagi investor, dan harga jual listriknya tetap harus kompetitif agar tarif konsumen tidak mahal” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agung Pribadi, Sabtu (27/1).
Agung menjelaskan, tren positif kontribusi pembangkit EBT dimulai sejak tahun 2011 dengan kapasitas terpasang sekitar 5,16 Gigawatt (GW). Angka ini mengalami peningkatan setahun kemudian menjadi 5,48 GW, atau naik 6,2 persen. Selanjutnya, pada tahun 2013, kontribusi EBT meningkat 21,1 persen atau menjadi 6,6 GW.
Tahun-tahun berikutnya, tren peningkatan pemanfaatan EBT bagi pembangkit juga terus terjadi. Pembangkit Listrik EBT menyumbang 7,5 GW atau meningkat 13,3 persen pada tahun 2014, 8,4 GW atau 12,1 persen tahun 2015 dan 8,8 GW atau 4,2 persen tahun 2016.
Sementara untuk tahun 2017, capaian total kapasitas pembangkit EBT meningkat 3,2 persen dari tahun sebelumnya atau setidaknya mencapai 9,1 GW. Dengan rincian, penyediaan pembangkit panasbumi sebesar 1.838,50 MW, PLT Bioenergi 1.834 MW, PLT Mini/Mikro Hidro 203,02 MW, PLT Surya 89,48 MW, PLT Air 5.124,60 MW dan PLT Bayu 1,12 MW.
Menurut Agung, Pemerintah terus menjaga peningkatan kontribusi pembangkit listrik berbasis EBT diantaranya PLT Bayu Sidrap tahap 1 dan rencana tahap 2 serta PLTB Jeneponto, PLTB Tanah Laut, PLT Arus Laut Larantuka, PLTS Terapung Cirata, PLTM Wadubori, PLTMH Warabiai.










Tinggalkan Balasan