Unity Cafe and Coffee di Jalan Basuki Rahmat No 49, Palu, Sulawesi Tengah.

Palu, Petrominer – Sehari pasca gempa dan tsunami melanda, kota Palu, Sulawesi Tengah, di malam hari hampir gelap gulita. Inilah yang mendorong PT PLN (Persero) untuk segera menerjunkan tim untuk melakukan pendataan dan pemulihan sistem kelistrikan di kota tersebut. Perbaikan jaringan distribusi pun dilakukan agar listrik dari pembangkit bisa segera dirasakan oleh masyarakat korban gempa.

Kerja cepat yang dilakukan oleh PLN melalui tim gabungan pemulihan kelistrikan Sulawesi Tengah pasca gempa dan tsunami terus menunjukkan hasil positif. Pencapaian ini berkat dukungan tim yang jumlahnya mencapai 1.141 orang. Mereka berasal dari unit-unit PLN seluruh Indonesia dengan keahlian di bidang pembangkitan, transmisi, distribusi serta supporting.

Secara sistem saat ini, menurut Direktur PLN Regional Sulawesi, Syamsul Huda, pasokan listrik untuk Palu, Donggala dan Sigi sudah siap normal kembali. PLN pun berfokus untuk secara bertahap memperbaiki jaringan listrik dan gardu distribusi lainnya yang terhubung langsung dengan pelanggan yang memang terdampak cukup parah akibat gempa.

PLN telah berhasil mengoperasikan 1.707 Gardu Distribusi, menyiapkan total 66 unit genset, dan melistriki pelanggan prioritas diantaranya 8 Rumah Sakit, 2 PDAM, 11 SPBU, 10 Bank&ATM, 18 BTS, 17 Tempat Ibadah, 15 Pusat Ekonomi, dan 15 Perkantoran.

Dengan kondisi suplai listrik pasca bencana yang terecovery dengan cepat, geliat perekonomian Palu dan sekitarnya pun mulai tumbuh kembali. Ini terlihat dari suasana malam di kota tersebut.

“Satu bola lampu yang menyala memberi harapan sejuta pedagang di kota Palu,” ujar Simpra Tajang (51), pemilik Unity Cafe and Coffee di Jalan Basuki Rahmat No 49, Palu.

Simpra menyampaikan hal itu untuk menggambarkan besarnya manfaat listrik paska bencana gempa dan tsunami di Palu. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada PLN, yang dengan sigap mengirimkan sejumlah teknisi PLN dari seluruh Indonesia untuk menerangi Palu.

Dia pun mengenang kembali detik-detik bencana yang memilukan itu. Kala itu, dia dan pegawainya sedang sibuk melayani pesanan minuman dan makanan tamu. Tiba-tiba goncangan terjadi begitu keras. Pengunjung berlarian keluar. Meja, peralatan dapur dan etalasenya berjatuhan. Seketika suasana semakin mencekam saat listrik tiba-tiba padam.

“Listrik padam, kota kami gelap gulita, kepanikan melanda, kekhawatiran akan keamanan dirasakan semua orang,” jelas Simpra.

Meski begitu, dia mengaku cukup beruntung. Pasalnya, cafe miliknya tidak mengalami kerusakan serius. Yang terlihat hanya retak rambut pada tembok, hanya pagar samping sepanjang 20 meter yang roboh, selebihnya semuanya masih dalam keadaan baik.

Selama listrik padam, Simpra dan keluarganya mendirikan tenda di halaman cafe. Selain masih adanya trauma, dia juga ingin memastikan semua fasilitas dan sarana usahanya dalam keadaan aman.

Tiga hari pertama saat listrik masih padam. Optimisme hidup Simpra sempat surut. Di benaknya harapan mulai memudar. Apalagi usaha cafe merupakan tumpuan keluarganya mengais nafkah di Palu.

Suatu waktu dia berkeliling kota palu menggunakan sepede motor. Di setiap sudut kota, dia melihat sendiri petugas PLN sibuk memperbaiki jaringan listrik. Dalam hati, dia pun berharap agar PLN bisa secepatnya menyalakan kembali listrik.

“PLN cepat sekali responnya, saya ingat hari ke-6 paska gempa, daerah Basuki Rahmat listrik sudah menyala. Betapa senang perasaan saya, bagi pengusaha kuliner seperti saya ini, rasanya sendi kehidupan mulai bangkit kembali,” kata Simpra.

Empat pegawai Simpra masih diliputi trauma, keempatnya belum dapat kembali bekerja. Simpra memutuskan tetap membuka usaha kulinernya dibantu adik laki-lakinya. Hari pertama listrik menyala, cafenya buka kembali. Pengunjung mulai berdatangan. Saat itu kebanyakan relawan yang datang.

Simpra Tajang (51), pemilik Unity Cafe and Coffee.

“Di balik musibah yang terjadi, Tuhan juga memberikan rezeki yang luar biasa. Semenjak listrik kembali menyala, cafe saya tak pernah sepi pengunjung. Optimisme saya menjulang. Saya yakin warga Palu lainnya juga merasakan hal yang sama,” katanya.

Simpra mencoba membayangkan apabila listrik dari PLN tak kunjung menyala. Ia tak mungkin menggunakan genset untuk usaha. Ia sadar akan lebih mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli minyak.

“Lebih dua pekan sudah paska gempa. Palu kembali terang. Kehidupan berangsur normal. PLN tidak hanya memberi warga Palu penerangan. PLN memberi kami optimisme untuk kembali bangkit,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here