Jakarta, Petrominer – Guru besar Universitas Indonesia Profesor Budyatna mempertanyakan konsep Holding BUMN Migas yang dianggapnya tidak masuk akal. Pasalnya, pembentukan holding ini justru diawali dengan adanya akuisisi perusahaan sakit terhadap perusahaan sehat.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah memaparkan rencana pembentukan holding BUMN bidang minyak dan gas bumi (migas). PT Pertamina (Persero) akan memimpin holding migas tersebut dan saham pemerintah di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) dialihkan kepemilikannya ke Pertamina. Sementara anak usaha Pertamina yang memiliki kegiatan usaha sejenis dengan PGN yaitu PT Pertamina Gas (Pertagas) akan dialihkan kepemilikannya ke PGN.

“Kenapa harus diawali akuisisi Pertagas kepada PGN. Ini sangat tidak masuk akal, perusahaan yang sakit mengakuisisi perusahaan sehat. Harusnya, Pertagas yang sehat yang mengambil alih PGN,” ujar Budyatna, Rabu (7/2).

Dia menilai, anjloknya laba bersih PGN selama lima tahun terakhir adalah sinyal berbahaya bagi perusahaan. Dalam kurun waktu 2012-2017, laba bersih BUMN tersebut terus terjun bebas hingga 87,64 persen.

“Sangat berbahaya! PGN adalah badan usaha milik negara. Mengapa tidak terdeteksi sejak awal? Kalau turun hanya satu tahun lalu naik lagi tidak mengapa. Tetapi ini terus menerus dengan angka penurunan yang fantastis,” tegas Budyatna.

Dalam waktu lima tahun, laba bersih PGN memang terus anjlok. Jika pada tahun 2012, BUMN itu meraup US$ 890 juta, namun setahun berikutnya justru turun menjadi US$ 804 juta. Malahan pada periode 2014-2016, laba bersih PGN selalu tergerus, dari US$ 711 juta, US$ 401 juta, dan US$ 304 juta. Sedangkan pada tahun 2017, diperkirakan hanya memperoleh laba sebesar US$ 110 juta.

Pertagas genjot pembangunan infrastruktur gas di Jawa melalui pemasangan pipa gas yang menghubungkan Gresik-Semarang.

Sementara kondisi berbeda diperlihatkan oleh Pertagas. Sejak 2012-2017, laba bersih Pertagas relatif stabil. Dalam kurun waktu tersebut, laba bersih Pertagas meningkat 16,67 persen, yakni US$ 120 juta pada tahun 2012 dan US$ 140 juta pada tahun 2017. Bahkan pada tahun 2018, laba bersih Pertagas diperkirakan sudah melampaui PGN.

“Ini menunjukkan bahwa Pertagas jauh lebih sehat dibandingkan PGN,” jelas Budyatna.

Menurutnya, tren penurunan laba bersih PGN memang memunculkan tanda tanya besar. Pasalnya, dari sisi aset, BUMN itu jauh lebih besar dibandingkan Pertagas. Dari sanalah Budyatna melihat adanya kesan menutup-nutupi persoalan ini. Apalagi, hingga saat ini tidak ada respons dari Pemerintah untuk segera menyehatkan kembali BUMN tersebut.

“Mengapa Presiden sampai tidak tahu? Jangan-jangan memang sengaja ditutup-tutupi. Biasa, ABS,” lanjut Budyatna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here