Direktur Keuangan PT Antam Tbk Dimas Wikan Pramudhito (tengah) didampingi Direktur Pemasaran Tatang Hendra (kanan) dan SVP Corporate Secretary Aprilandi Hidayat Setia saat melakukan pemaparan di media expose kinerja keuangan Antam tahun 2018, Senin (11/3). (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. mencatat peningkatan kinerja operasi, penjualan dan keuangan yang signifikan pada tahun 2018. Kinerja positif ini mendorong pertumbuhan laba bersih sampai 541 persen menjadi Rp 874 miliar.

“Capaian ini disokong oleh tumbuhnya kinerja produksi dan penjualan komoditas utama, yaitu feronikel dan emas. Kenaikan laba juga dipicu oleh langkah efisiensi usaha untuk menstabilkan biaya operasional,” kata Direktur Keuangan Antam, Dimas Wikan Pramudhito, Senin (11/3).

Dimas menjelaskan, Antam mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahun berjalan 2018 mencapai 541 persen menjadi Rp 874,42 miliar. Tahun 2017, laba bersih Antam sebesar Rp 136,50 miliar. Pertumbuhan laba bersih yang positif terutama disebabkan pertumbuhan signifikan kinerja produksi dan penjualan komoditas utama Antam serta peningkatan efisiensi yang berujung pada stabilnya level biaya tunai operasi.

Para periode yang sama, Antam mencatat penjualan bersih sebesar Rp 25,24 triliun, naik 99 persen dibandingkan penjualan bersih tahun 2017 yang sebesar Rp12,65 triliun. Kinerja keuangan ANTAM yang solid juga terefleksikan dari pertumbuhan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) 2018 sebesar Rp 3,33 triliun, tumbuh 51 persen dibandingkan capaian EBITDA 2017 yang sebesar Rp2,21 triliun.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pertumbuhan kinerja keuangan Antam tahun 2018 yang solid tersebut didukung oleh kenaikan kinerja produksi dan penjualan. Terutama dua komoditas unggulan, yakni Emas dan Feronikel.

“Kedua komoditas tersebut mencatat jumlah produksi dan penjualan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan,” tegas Dimas.

Sepanjang tahun 2018, total penjualan Antam tercatat senilai Rp 25,24 triliun. Emas menjadi komponen penyumbang paling besar, dengan nilai Rp 16,69 triliun atau setara 66 persen dari total penjualan. Capaian penjualan emas tersebut naik 126 persen dibandingkan penjualan bersih emas tahun 2017 yang tercatat Rp 7,37 triliun.

Tahun 2018 lalu, Antam mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 1.957 kg (62.919 t.oz). Sementara, volume emas yang mereka jual mencapai 27.894 kg (896.812 t.oz).

Sementara penjualan feronikel pada tahun 2018, yang merupakan kontributor terbesar kedua, tercatat sebesar Rp4,66 triliun atau setara 18 persen dari total penjualan bersih.

Volume produksi feronikel tercatat sebesar 24.868 ton nikel dalam feronikel (TNi). Catatan itu naik sebesar 14 persen dari tahun 2017 sebesar 21.762 TNi. Sementara penjualan feronikel mencapai 24.135 ton nikel (TNi), tumbuh 10 persen dibandingkan tahun 2017 yang sebanyak 21.878 TNi.

“Peningkatan volume produksi dan penjualan feronikel ini sejalan dengan tercapainya stabilitas operasi produksi pabrik feronikel Antam di Pomalaa yang saat ini memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 27 ribu TNi per tahun,” jelas Dimas.

Antam juga terus berupaya meningkatkan penjualan emas dengan melakukan perluasan pasar. Sebagai upaya meningkatan nilai tambah produk emas, pada tahun 2018, Antam meluncurkan desain dan kemasan produk emas ANTAM-Logam Mulia (ANTAM-LM) yang baru. Produk emas baru itu dilengkapi dengan teknologi CertiCard untuk meningkatkan rasa aman masyarakat dalam berivestasi emas batangan karena memberikan fitur keamanan berlapis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here