New York, Petrominer – Hedonova telah melepas 76 persen sahamnya di tambang nikel Mineralindo Morowali ke konsorsium perusahaan tambang China, Indo-pacific Net-zero Battery-materials Consortium (INBC). Total nilai penjualan saham tersebut mencapai US$ 31 juta tunai, melonjak dibandingkan ketika dibeli seharga US$ 10 juta pada Februari 2020 lalu.
Pengelola dana investasi berbasis di Paris ini juga akan menarik investasi pelengkapnya di wilayah tambang tersebut, termasuk sewa peralatan senilai US$ 4 juta, smelter, inventaris sebesar 300 ton bijih Nikel, dan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 30 megawatt (MW) per jam yang memasok listrik ke tambang.
Tambang tersebut adalah satu-satunya tambang yang sudah dapat karbon kredit dan netral karbon di wilayah tersebut, yang haknya akan dipertahankan oleh Hedonova selama tiga tahun ke depan.
Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, komponen utama dalam revolusi kendaraan listrik di masa mendatang. Hal ini menyebabkan perusahaan pertambangan China menginvestasikan lebih dari US$ 14 miliar dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai bagian dari perjanjian penjualan, Hedonova sudah sepakat tidak akan ada pemutusan hubungan kerja atau perubahan kondisi pekerja.
“Prioritas utama kami sebelum penjualan ini adalah memastikan kondisi kerja ditegakkan dengan standar yang sama seperti saat kami menjadi pemilik. Tambang Morowali saat ini memiliki sertifikat ISO/TC 82 dan ISO/TC 82/SC 8, yang berarti sebagian besar sistem otomatis dan tidak memerlukan manusia untuk bekerja dalam kondisi yang keras,” ujar CEO Hedonova, Alexander Cavendish, dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Kamis (16/2).
Cavendish menegaskan, meski harga nikel jangka panjang cenderung meningkat, namun Hedonova tetap memutuskan untuk keluar karena masalah lingkungan di wilayah Morowali. Meningkatnya persaingan dan rendahnya kondisi ESG telah memaksa perusahaan itu dari tambang tersebut.
“Komite Tata Kelola (GCG) kami, yang mengawasi aspek keberlanjutan, keragaman, dan inklusivitas dari portofolio, secara bulat telah memutuskan untuk keluar, dan saya dengan sepenuh hati mendukung keputusan tersebut. Tanpa tujuan, tidak ada titik keuntungan,” tegasnya.
Hedonova adalah investor aktif di Indonesia, dengan lebih dari US$ 50 juta diinvestasikan di sektor energi, kesehatan & startup. Perusahaan ini juga telah mengalokasikan hasil penjualannya untuk investasi lain di Indonesia.
“Kami telah mengeksplorasi peluang yang lebih menguntungkan di bidang perawatan kesehatan dan penyimpanan energi serta penghapusan karbon yang akan kami investasikan pada tahun 2023,” ungkap Cavendish.
Lebih lanjut, dia menyampaikan meskipun nikel merupakan komponen utama baterai lithium-ion, yang digunakan pada kendaraan listrik, pengembangan teknologi baterai baru yang menggunakan sedikit nikel atau tanpa nikel sama sekali dapat mengurangi permintaan. Penurunan ekonomi atau resesi juga dapat mengurangi permintaan nikel.
“Pasokan nikel bakal meningkat ketika tambang baru mulai dikembangkan atau tambang eksisting mulai meningkatkan produksi. Kondisi ini akan menyebabkan kelebihan pasokan dan harga mulai turun. Tidak hanya itu, meningkatnya ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik juga dapat berdampak negatif terhadap permintaan nikel dan menyebabkan penurunan harga,” ujar Cavendish.








Tinggalkan Balasan