Fasilitas penyimpanan batubara PLTU Indramayu, Jawa Barat. Rencananya akan diberi atap seluruhnya untuk mengantisipasi musim hujan. (Petrominer/Pris)

Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penyediaan sumber energi primer untuk ketenagalistrikan tetap terjamin di tengah kondisi cuaca ekstrem. Kepastian ini dilakukan dengan tetap mengamankan rantai pasok (supply chain) batubara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk dikonversi menjadi listrik oleh PT PLN (Persero) dan Independent Power Producer (IPP).

“Kami diminta mengawal betul jangan sampai ada gangguan yang berarti, termasuk mengamankan rantai pasokan,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Rida Mulyana dalam jumpa pers secara daring, Rabu (27/1).

Menurut Rida, Pemerintah berupaya menjaga rantai pasok energi primer melalui menjaga reliability pembangkit, memaksimalkan produksi PLTU milik IPP, dan mengoptimalisasi stok batubara dengan mengatur produksi listrik berdasarkan ketersediaan pasokan. Selain itu, Pemerintah juga mendorong upaya memaksimalkan penggunaan gas di pembangkit listrik milik PLN.

“Kalau pasokan dari PLTU berkurang karena kapasitas batubara berkurang, kita akan memaksimalkan penggunaan gas. Kalau pun gas masih kurang, maka kita dengan sangat sangat sangat terpaksa menggunakan BBM. Itu adalah opsi terakhir,” tegasnya.

Upaya lainnya adalah mengganti penggunaan tongkang dengan kapal untuk pengiriman batubara, dan menggeser (menjadwal ulang) waktu perawatan pembangkit. Bahkan, Kementerian ESDM sudah mengingatkan ke PLN dan IPP mengantisipasi terjadinya cuaca ekstrem.

“Tujuan kita adalah menjamin tidak ada potensi pemadaman. Kita ingin menjamin listrik selalu tersedia di manapun. Per Oktober 2020 lalu, kita sudah ingatkan ke PLN dan IPP agar mereka mengamankan supply chain,” ungkap Rida.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Ridwan Djamaluddin, menegaskan bahwa semua perusahaan produsen batubara telah menyampaikan komitmennya untuk memenuhi kewajiban pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri.

Mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) mewajibkan secara tahunan kepada pemasok batubara untuk mengalokasikan 25 peren dari produksinya untuk pasar dalam negeri, khususnya untuk kepentingan pembangkitan listrik. DMO dari target produksi 550 juta metrik ton batubara adalah 137 juta metrik ton, sedangkan kebutuhan batubara untuk pembangkit tahun ini diproyeksikan 113 juta metrik ton.

“Kebutuhan pasokan batubara ke PLN tidak boleh tidak cukup. Semua perusahaan pemasok batu bara sudah menyatakan komitmennya untuk memenuhi kewajibannya, ada 54 perusahaan. Pemerintah sesuai kebijakan mengutamakan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri,” ujar Ridwan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here