Jakarta, Petrominer – Status Gunung Agung saat ini memang masih berada di level IV (AWAS). Namun di luar radius 10 kilo meter (km) dari kawah Gunung Agung, Pulau Bali aman untuk dikunjungi. Dengan begitu, aktivitas di luar radius bahaya dapat berjalan normal.
“Badan Geologi menyampaikan yang terdampak hanya sekitar Gunung Agung saja dengan radius 8 hingga 10 km-an. Jadi kalau mau yang ke Denpasar, Danau Batur, Ubud, di luar radius 10 km, aman,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudy Suhendar, Jum’at (15/12).
Atas dasar itulah, Rudy mempersilahkan para wisatawan datang ke Bali. Apalagi jelang liburan Tahun Baru, Pulau Bali biasanya menjadi tujuan favorit.
“Adapun kalau terjadi erupsi sudah dilokalisir potensi bahayanya hanya terjadi di Gunung Agung saja. Kalau terjadi awan panas hanya di sekitar Gunung Agung, tidak sampai Denpasar dan kemana-mana,” paparnya.
Sebagaimana diketahui, Gunung Agung dinaikkan kembali status aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) pada 27 Nopember 2017 pukul 06:00 WITA. Pos Pengamatan Gunung Agung milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan berbagai pihak.
“Kami terus melakukan pengamatan setiap menitnya, melakukan analisis dari jam ke jam sampai hari ini, 24 jam setiap hari. Kita juga telah melakukan simulasi apabila terjadi awan panas, kemana sih awan panasnya itu? Hanya di sekitar Gunung Agung,” tambah Rudy.
Pemantauan Gunung Agung juga dilakukan menggunakan peralatan yang sangat mumpuni, termasuk terlengkap di Indonesia, sebagaimana peralatan yang digunakan untuk memantau gunung api di seluruh dunia.
PVMBG punya instrumen untuk memantau. Untuk visualnya ada CCTV, Digital dan Thermal Camera, alat seismik. Alat seismik untuk Gunung Agung terpasang 11 set, untuk Gunung Batur 4 set, karena ini bisa saling melengkapi. Untuk deformasi (perubahan bentuk) ada 5 set GPS dan 2 set tiltmeter. Ada juga 2 sensor temperatur untuk mengukur Gas ada DOAS Scanner dan MultiGAS.
“Kita juga menggunakan data-data satelit untuk mengukur deformasi, energi termal dan konsentrasi gas, untuk mengetahui setiap perubahannya. Bahkan kita juga menerbangkan Drone yang mampu mengambil foto, merekam video hingga mengukur gas magmatik,” jelasnya meyakinkan.
Untuk mendapat informasi rutin aktivitas Gunung Agung, PVMBG juga punya aplikasi MAGMA Indonesia yang sudah bisa diakses dari seluruh dunia. Ini sangat lengkap. Alat-alat dan aplikasi yang digunakan sudah setara dengan pengamatan modern gunung api di seluruh dunia.
“Dengan ini upaya mitigasi bencana erupsi Gunung Agung menjadi lebih optimal,” terang Rudy.








Tinggalkan Balasan