Balikpapan, Petrominer – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil melaksanakan aktivitas load out jacket Manpatu dari Proyek Pengembangan Manpatu yang berlangsung di halaman fabrikasi milik PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Kamis (26/3). Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari first cut of steel yang dilakukan pada Mei 2025 lalu dan akan dilanjutkan dengan rencana sail away jacket.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, mengatakan proses load out jacket atau pemindahan struktur jacket serta sail away jacket Manpatu menjadi salah satu pencapaian strategis dalam pelaksanaan Proyek Manpatu. Selanjutnya akan diikuti dengan load out dan sail away topside pada pertengahan April 2026.
“Target instalasi jacket dan topside dijadwalkan pada April-Mei 2026. Keseluruhan platform diharapkan dapat terpasang di wilayah operasi PHM pada awal kuartal III tahun 2026. Target onstream mulai kuartal I tahun 2027,” ujar Setyo dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Senin (30/3).
Proyek Manpatu merupakan proyek fast track dengan jadwal yang sangat ketat sejak penemuan baru (discovery) gas di sumur eksplorasi Manpatu-1x pada kuartal I tahun 2022. Sumur di lapangan offshore South Mahakam ini berlokasi sekitar 35 km dari pesisir Balikpapan ini masuk, dengan kedalaman perairan mencapai 50–60 meter.
Lingkup pekerjaan proyek ini mencakup fabrikasi dan instalasi satu anjungan baru yaitu Jacket beserta Piles dengan total berat ± 1380 ton dan Topside dengan berat ± 1100 ton, serta modifikasi pada satu anjungan eksisting. Proyek ini juga meliputi pemasangan pipa penyalur bawah laut berdiameter 14 inch sepanjang kurang lebih 2,5 km, serta pelaksanaan pekerjaan subsea dengan tingkat kompleksitas dan risiko yang tinggi.
Secara keseluruhan, proyek ini juga mencakup pengeboran sebanyak 11 sumur pengembangan. Proyek ini dirancang untuk mendukung peningkatan produksi gas dan minyak (kondensat) PHM, dengan kapasitas desain hingga 80 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari).
“Kami secara konsisten mendorong inovasi serta penerapan teknologi yang mengacu pada praktik terbaik di industri hulu migas, baik ditingkat nasional maupun global, yang diimplementasikan secara terpadu diseluruh aspek operasional dan bisnis perusahaan,” ujar Setyo.
Melalui Proyek ini, PHM juga berhasil mencapai tonggak penting dalam peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Proyek Manpatu telah mengimplementasikan penggunaan pipa penyalur lokal (Electric Resistance Welding / ERW) secara menyeluruh (top-to-toe) yang mencakup, sistem perpipaan subsea, riser dan pipe bend, yang pertama kalinya diterapkan di area Mahakam.
Di sisi lain, PHM memastikan bahwa setiap proyek dijalankan secara optimal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja, dengan target nihil kecelakaan (zeroincident). Dalam pelaksanaannya, Proyek Manpatu berhasil mencatatkan pencapaian keselamatan kerja yang signifikan, yakni lebih dari dua juta jam kerja (manhours) tanpa insiden kehilangan waktu kerja (Lost Time Incident/LTI) hingga Maret 2026. Dengan total cakupan pekerjaan yang sangat besar, kegiatan ini diproyeksikan mencapai lebih dari tiga juta jam kerja (manhours) pada saat penyelesaian.








Tinggalkan Balasan