, ,

Proyek Chemical EOR Minas Dimulai, Produksi Nambah 70 Ribu BPH

Posted by

Pekanbaru, Petrominer – Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Lapangan Minas Area A, Zona Rokan, resmi dimulai. Penerapan teknologi CEOR ini ditargetkan bakal meningkatkan perolehan minyak 12-16 persen dari Original Oil in Place (OOIP).

Lapangan Minas, yang telah berproduksi sejak tahun 1952, merupakan kategori lapangan mature namun masih memiliki potensi cadangan besar di bawah permukaan (subsurface). Lapangan minyak ini dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE).

Seremoni peresmian pemanfaatan teknologi CEOR tersebut berlangsung di Rumbai, Selasa (23/12). Ini sekaligus menandai komitmen PHR dalam mengoptimalkan produksi guna mendukung ketahanan energi nasional.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan lapangan Minas merupakan salah satu aset paling penting dalam sejarah industri hulu migas Indonesia. Selama puluhan tahun, lapangan minyak ini telah berkontribusi nyata terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional.

“Namun kita juga menyadari bahwa Minas adalah lapangan yang sudah mature. Keberlanjutan produksinya hanya dapat dijaga melalui inovasi dan penerapan teknologi yang tepat. Oleh karena itu, kita bersyukur hari ini dapat meresmikan penerapan Chemical EOR Tahap I di Area A lapangan Minas,” ujar Djoko.

200 Ribu BPH

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menyampaikan bahwa secara global, teknologi CEOR telah diterapkan oleh perusahaan-perusahaan energi terkemuka dunia. Keberhasilan CEOR, khususnya pada lapangan mature, membuktikan bahwa inovasi teknologi mampu memperpanjang umur lapangan, meningkatkan recovery factor, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

“Dalam konteks tersebut, keberhasilan pengembangan CEOR di Wilayah Kerja Rokan tidak hanya menjadi pencapaian teknis, tetapi juga menjadi simbol transformasi Pertamina dalam mengelola aset-aset hulu secara unggul, berdaya saing global, dan berkelanjutan serta semakin mengukuhkan Pertamina sebagai perusahaan migas kelas dunia,” kata Oki.

Di Proyek CEOR, PHR menggunakan bahan kimia yang merupakan kombinasi dari tiga bahan kimia yaitu alkali, surfaktan, dan polimer (ASP). Campuran ketiga bahan kimian tersebut diinjeksikan ke dalam reservoir untuk menyapu minyak keluar dari pori-pori batuan.

“Yang patut kita banggakan bersama, surfaktan sebagai komponen utama dalam teknologi CEOR ini merupakan hasil inovasi perwira Pertamina. Efektivitasnya telah melalui serangkaian pengujian baik di laboratorium maupun di lapangan, sehingga memastikan keandalan dan kesiapan teknologi ini untuk diterapkan secara komersial,” tegasnya.

Penerapan CEOR dengan skala komersial ini menjadikan PHR sebagai pelopor teknologi CEOR di Indonesia. Keberhasilan proyek ini tidak berhenti di satu area saja, namun akan membuka peluang pengembangan CEOR di area lain di Wilayah Kerja Rokan, seperti Minas Area B, C, dan D, Balam South, Balam, Bangko, hingga Petani.

Dari sisi produksi, proyek CEOR ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sekitar 70 ribu barel minyak per hari (bph) pada tahun 2030, dan mencapai puncak produksi hingga 200 ribu bph tahun 2036.

Capaian ini tentu akan memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi kinerja Pertamina dan PHR, tetapi juga bagi ketahanan energi nasional, penerimaan negara, serta penguatan kapasitas teknologi dalam negeri.

Lapangan Minas, yang dikenal sebagai penghasil Sumatra Light Crude memiliki luas wilayah 204,37 km², dengan 1.243 sumur aktif dan rata-rata produksi harian 29 ribu barel minyak per hari (bph). Seluruh hasil produksi Zona Rokan dialirkan melalui jaringan pipa ke Hydrocarbon Transportation (HCT) Crude Oil Terminal Operation Center di Dumai, sebelum didistribusikan ke kilang Pertamina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *