Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) Group telah melakukan rebranding anak perusahaan. Salah satunya adalah Peteka Karya Jala (PKJ), yang bergerak di bidang dredging, salvage, under water services, waste management, fresh water provider, dan EPC.
Setelah melalui proses rebranding dan restrukturisasi bisnis sejak tahun lalu, kini berubah menjadi Pertamina Marine Engineering (PME). Selain memiliki kekuatan secara kompetitif (competitive advantage), Perusahaan ini juga diakui established pada bisnis jasa bawah air (under water service).
“Kami sudah mengantongi izin usahanya, memiliki peralatannya secara lengkap, dan juga pengalaman menggarap unit bisnis ini. Terutama kami memiliki para penyelam handal,” ungkap Menurut Direktur PME, Yada Prawira Ganta, Kamis (3/11).
Jasa pelayanan bawah air merupakan unit bisnis yang dikembangkan di lingkungan internal Pertamina. Usaha ini memperlihatkan hasil bagus karena sudah memahami seluk beluk operasionalnya dengan segala infrastruktur yang disediakan Pertamina. Demikian juga dengan unit bisnis dredging (pengerukan) yang kebutuhannya cukup banyak saat ini.
“Kami sudah memahami bagaimana jalinan jejaring (network)-nya, termasuk juga mitra kerja yang kredibel dan biasa bekerja sama di lingkungan perkapalan,” tutur Yada yang sejak tahun 2007 berkarir di Pertamina.
Proses Rebranding
Dalam proses rebranding, ada juga perpindahan bisnis dari anak usaha PTK Group yang sebelumnya dikelola oleh Peteka Karya Tirta (PKT) kepada PME, yakni bisnis penyediaan air baku (fresh water). Secara bertahap, PME juga tengah mempersiapkan bisnis pengelolaan berbagai limbah dari kapal tanker.
“Salah satu target kami dalam pengelolaan limbah dapat mengedepankan kerjasama strategis, yaitu dengan menggandeng partner usaha yang kompeten dan berpengalaman lebih banyak. Dengan peluang pasar cukup besar, serta pengalaman kami dan lokasi usaha yang tersedia, nantinya tinggal melengkapi sarana peralatannya melalui kerjasama kemitraan ataupun konsorsium,” jelasnya.
Ini menjadi strategi korporasi mengingat di lingkungan wilayah kerja Pertamina, dengan area terbentang dari Sabang sampai Merauke. Itu sebabnya, PME pun melengkapi divisi bisnis ini dengan infrastruktur pendukung di bidang pengelolaan limbah, baik dengan mengembangkan kelengkapannya secara menyeluruh maupun parsial.
“Ke depannya proses rebranding ini ditujukan agar PTK menjadi ‘one stop service’ di bidang bisnis maritim. Sebagai bagian dari PT Pertamina International Shipping (PIS) selaku Subholding Integrated Marine Logistics (IML), PTK memiliki 26 ruang lingkup usaha. Masing-masing anak usaha akan disesuaikan dengan kompetensi (keahlian) dan kekuatan yang dimiliki,“ papar Yada.
Menurutnya, kesiapan menjadi ‘one stop service’ menjadi tantangan perusahaan. Hal ini selaras dengan target PTK 5 sampai 10 tahun ke depan. Mulai dari meningkatkan keunggulan operasional, mengembangkan pangsa pasar di Pertamina Group sampai tahun 2026, hingga memperluas pasar global sebagai penyedia layanan kelautan terkemuka dengan standar internasional.
Dalam proses rebranding, saat ini PME tengah mempersiapkan proses bisnis, di antaranya kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), kompetensi organisasi, termasuk legalitas perizinan. Infrastruktur fundamental dan kelengkapannya disiapkan secara bertahap, dan kuartal keempat tahun ini proses tahapan rebranding akan selesai.
“Setelah itu kami perlu menyosialisasikan kepada seluruh pelanggan internal dan eksternal,“ ungkap Yada.
Seluruh kontrak pekerjaan yang sebelumnya atas nama PKJ dilakukan amandemen sebelum akhir tahun ini. Sampai berganti nama secara resmi, sehingga seluruhnya bermigrasi menjadi PME pada kuartal keempat tahun ini.
“Perubahan terbesar adalah adaptasi fisik, karena akan mengubah struktur yang disesuaikan dengan kebutuhan PME di masa depan. Berubah menyesuaikan kebutuhan bisnis dan korporasi. Dulu kami menggunakan fungsi yang ada di induk perusahaan PTK, namun ke depan bagian tersebut akan dibentuk di dalam PME,” jelasnya.








Tinggalkan Balasan