Probolinggo, Petrominer – Hari Sabtu (23/3), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton 1 dan 2 memasuki usia seperempat abad atau 25 tahun. Suatu usia yang cukup panjang sekaligus cukup matang dalam menjawab berbagai tantangan dan perubahan secara internal maupun eksternal.

Selama perjalanan 25 tahun, pembangkit listrik ini telah mewujudkan karya nyata untuk menerangi negeri ini. Meski sudah bisa disebut tua, namun pembangkit ini masih diandalkan untuk menopang sistem kelistrikan Jawa-Bali.

Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara ini berlokasi di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) UP Paiton, anak usaha PT PLN (Persero).

“Ini PLTU Paiton beroperasi pada 1993 dan 1994 diresmikan oleh Presiden Soehator pada 23 Maret 1994. Jadi besok berusia 25 tahun. PLTU ini sudah lama tapi terus mendukung sistem kelistrikan Jawa-Bali,” kata General Manajer PLTU Paiton unit 1 dan 2, Mustafa Abdillah, saat ditemui di kantornya, Jum’at sore (22/3).

Menurut Mustofa, bertahannya keandalan PLTU Paiton 1-2 hingga berusia 25 tahun karena beragam inovasi yang telah dilakukan. Malahan, inovasi tersebut berhasil menjadikan salah satu pembangkit dengan status gangguan terendah di Indonesia.

Pada tahun 2018, PJB UP Paiton 1-2 dengan kapasitas 2×400 megawatt (MW) ini mencatat tingkat gangguan sebesar 1,33 persen dalam setahun atau hanya tujuh hari. Prestasi tersebut, tegasnya, merupakan hasil kerja seluruh karyawan PJB Paiton.

Upaya mempertahankan tingkat gangguan terendah antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti pemeliharaan peralatan secara berkelanjutan termasuk ketersediaan suku cadang, melakukan pemantauan proses secara terus menerus, dan pemantauan sistem lingkungan antara lain tetap menjaga kebersihan air laut.

“Pada usia yang 25 tahun ini, kami tetap berhasil menjadi salah satu pembangkit dengan tingkat gangguan terendah di Indonesia,” ujar Mustofa.

Inovasi lainnya adalah keberhasilan PLTU Paiton 1-2 dalam program Coal Switching. Metode penggantian batu bara bernilai kalor tinggi dengan batu bara bernilai kalor lebih rendah ini telah menurunkan BPP (Biaya Pokok Penyediaan).

Pemanfaatan batu bara kalori rendah sudah menjadi fenomena di Indonesia, seiring dengan Program 35.000 MW. Banyak tantangan dalam mengoperasikan pembangkit berbahan bakar batu bara kalori rendah.

“PLTU Paiton masih mampu beroperasi secara aman dengan batubara nilai kalor 4.500 kCal/kg. Tentunya, dengan batasan-batasan operasi peralatan yang berlaku saat ini,” jelasnya.

Selain Paiton 1-2, dalam lingkungan kompleks PLTU Paiton juga terdapat pembangkit beberapa unit pembangkit lainnya. Unit 3 milik PT Paiton Energi Company (PEC) 1×800 MW, Unit 5-6 PT Jawa Power 2×610 MW, Unit 7-8 PEC 2×610 MW, dan Unit 9 PLN 1×660 MW.

Total kapasitas daya pembangkit di Kompleks PLTU Paiton mencapai 4.600 MW dengan luas lahan 400 ha. Ini menjadi kompleks pembangkit terbesar di Asia Tenggara.

Proper Emas

Meski berumur seperempat abad, pengelola PLTU Paiton berupaya terus menjaga kesinambungan antara pembangkit dengan lingkungan sekitar. Selain handal dalam memproduksi listrik berkualitas dan mengelola lingkungan dengan baik, juga memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat di sekitarnya

Upaya tersebut tak sia-sia. PJB UP Paiton memperoleh penghargaan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berupa PROPER Emas selama dua tahun berturut-turut, pada tahun 2017 dan 2018.

Kategori Emas diberikan kepada perusahaan yang dinilai sangat baik dalam pengelolaan lingkungannya. Dengan berbagai kriteria yang harus dipenuhi.

“Pada 2019 ini, kami bertekad memperoleh Proper Emas lagi. Kami ingin mencetak hattrick atau ketiga kalinya berturut-turut,” tegas Mustofa.

Sejumlah program pun disiapkan demi mempertahankan gelar Proper Emas yang terkait dengan pemberdayaan bagi masyarakat sekitar dan lingkungan. Salah satu program unggulan yang telah dilaksanakan dengan baik adalah Organic Integrated System (OIS) dan Desa Wisata Binor Harmoni (Dewi Harmoni).

Menurutnya, kedua dua program inilah yang menjadi ujung tombak PJB UP Paiton dalam memberdayakan masyarakat sekitar untuk menambah nilai kebermanfaatan dari eksisteni Unit Pembangkit.

OIS merupakan program pertanian selaras alam dengan tujuan menciptakan kemandirian petani secara intelektual, managerial, dan material. Melalui program ini, pupuk yang digunakan adalah pupuk organik dan pestisida nabati. PJB UP Paiton bersama masyarakat dan kelompok tani telah menerapkan sistem ini di lahan seluas 40 ha pada tahun 2018.

Selain itu 10 orang petani telah memiliki sertifikasi fasilitator pertanian organik dari Lembaga Sertfikasi Profesi (LSP) Pertanian Seloliman, Mojokerto.

Sedangkan Dewi Harmoni adalah program CSR binaan PJB UP Paiton yang berfokus pada pemberdayaan nelayan, istri nelayan, dan ibu-ibu yang tergabung dalam Posyandu dan POKJA 3 PKK. Melalui program ini, perusahan, pemerintah Desa, dan berbagai kelompok masyarakat berkolaborasi menjaga laut dan memberikan nilai tambah atas potensi-potensi yang ada di Desa Binor.

Tidak hanya itu, perusahaan ini juga telah memberikan bantuan perahu fiber sebanyak 28 unit dan pembuatan 200 rumah ikan (rumpon). Selain itu, juga telah ditanam 16.300 bibit mangrove dan mengintegrasikan daerah wisata tersebut melalui pembuatan pusat informasi wisata, pelatihan pemandu wisata, serta sertifikasi selam A-1.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here