, ,

Jadi Fondasi, PHR Catat 11 Juta Jam Kerja Selamat di Awal 2026

Posted by

Pekanbaru, Petrominer – PT Pertamina Hulu Rokan menunjukkan bahwa keselamatan dan produktivitas bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru, keduanya berjalan beriringan dan saling menguatkan dalam satu sistem yang terintegrasi.

“Karena pada akhirnya, setiap jam kerja selamat adalah upaya menekan insiden dan menjaga setiap pekerja kembali ke rumah dengan selamat,” ungkap Senior Manager HSE Operations Zona Rokan, I Nyoman Widaryantha Naya, dalam pernyataan resmi yang diterima PETROMINER, Rabu (15/4).

Dalam mengelola wilayah kerja Rokan, PHR terus menjaga momentum transformasi keselamatan kerja di awal tahun 2026. Dalam tiga bulan pasca evaluasi menyeluruh, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas ini mencatat capaian 11 juta jam kerja selamat. 

“Sebuah hasil dari upaya kolektif untuk memastikan setiap langkah operasional berjalan aman dan berkelanjutan,” ujar Naya. 

Dengan melibatkan 43.639 tenaga kerja, menurutnya, capaian ini menjadi refleksi nyata bahwa sistem manajemen Health, Safety, and Environment (HSE), khususnya di Zona Rokan, terus berkembang dan diperkuat. Ini membuktikan bahwa aspek keselamatan tidak lagi dimaknai sebatas kepatuhan terhadap prosedur, namun juga kesadaran dan komitmen untuk melakukan intervensi dengan landasan peduli sesama pekerja, sebagai fondasi utama dalam setiap aktivitas operasional.

Transformasi itu juga ditopang dengan langkah modernisasi. Diantaranya melalui implementasi SHIELD AI. Yakni, sebuah proses inspeksi dan observasi yang terintegrasi dalam satu ekosistem digital.

“Selain meningkatkan akurasi dan kecepatan pengawasan, teknologi ini juga memperkuat kemampuan prediktif dalam mengidentifikasi potensi risiko terjadinya insiden,” jelas Naya.

Di sisi lain, budaya pencegahan tumbuh semakin nyata di lapangan. Tercatat 2.818 laporan Unsafe Act dan Unsafe Condition (UA/UC) dalam periode yang sama. Angka ini mencerminkan keberanian dan kepedulian pekerja untuk saling menjaga satu sama lain. Pasalnya, keselamatan tidak lagi bergantung pada pengawasan semata, melainkan tanggung jawab kolektif.

Menurut Naya, setiap laporan baik UA/UC, setiap langkah inspeksi dan keputusan lapangan merupakan bentuk nyata dari penguatan budaya keselamatan yang sedang dilakukan bersama. Transformasi HSE di Zona Rokan juga menyentuh aspek keandalan aset dan kepatuhan lingkungan. Capaian ini bukanlah langkah terakhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang.

“Kami memastikan setiap operasi berjalan selaras dengan prinsip asset management yang kuat serta memenuhi seluruh ketentuan lingkungan, termasuk AMDAL dan PERTEK dalam menjaga keberlanjutan produksi energi nasional. Di sisi lain, melindungi lingkungan dan masyarakat sekitar,” paparnya.

Fondasi Utama

Dalam kesempatan sebelumnya, SKK Migas berulang kali menekankan bahwa keselamatan kerja adalah fondasi utama, bukan sekedar pilihan. Aspek ini wajib diimplementasikan dengan tujuan mencapai zero accident di industri hulu migas, demi mendukung target produksi nasional.

Kepala SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), CW Wicaksono, mengatakan keselamatan kerja merupakan fondasi utama untuk memastikan operasi hulu migas aman, berkelanjutan, dan produktif. Implementasi utamanya meliputi Sistem Manajemen K3LL (K3 dan Lindungan Lingkungan), kebijakan Stop Work Authority (hak menghentikan kerja jika tidak aman), serta penggunaan alat pelindung diri (APD) standar.

“Kami terus menerus membangun budaya Stop Work Authority (SWA), di mana setiap pekerja berhak dan wajib menghentikan pekerjaan jika menemukan kondisi atau perilaku yang tidak aman,” ujar Wicakosono.