Jakarta, Petrominer – Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sei Mangkei di Simalungun, Sumatera Utara, sudah mencapai 89 persen dan memasuki tahap commissioning. Pembangkit energi terbarukan yang dibagun sejak akhir tahun 2020 lalu ini ditargetkan commercial operation date (COD) tahun ini.
Chief Executive Officer Subholding Pertamina Power & New Renewable Energy (NRE), Dannif Danusaputro, menjelaskan bahwa PLTS tersebut dibangun Pertamina NRE bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III). Saat ini, proyek yang dibangun di atas lahan seluas 2 hektar milik PTPN III tersebut sudah memasuki tahap commissioning.
“Dengan kapasitas 2 MW, PLTS tersebut akan menyuplai listrik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. PLTS ini diperkirakan dapat memproduksi listrik hingga 1,5 gigawatt (GW) dalam setahun dan berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1,4 ton setara CO2 per tahun,” ungkap Dannif, Jum’at (23/7).
KEK Sei Mangkei merupakan kawasan ekonomi khusus pertama di Indonesia yang memiliki konsep green economic zone, yaitu mengutamakan pengembangan energi terbarukan termasuk penggunaan energi untuk pembangkit listrik. Dengan konsep ini, kegiatan industri yang berada dalam zona tersebut diharapkan lebih ramah lingkungan untuk mendukung dekarbonisasi.
Sebelumnya, Pertamina NRE dan PTPN III telah menyelesaikan proyek penyediaan energi listrik berbasis energi terbarukan di KEK Sei Mangkei, yaitu PLTBg berkapasitas 2,4 MW. Masih di wilayah Sumatera Utara, Pertamina NRE tengah mengoperasikan proyek operation & maintenance (O&M) PLTBg Kwala Sawit dan Pagar Merbau dengan kapasitas 2×1 MW. Proyek ini bekerja sama dengan PTPN II.
“Transisi menuju energi bersih yang dilakukan Pertamina sejalan dengan konsep green economic zone KEK Sei Mangkei. Kami percaya aktivitas industri dapat memberikan kontribusi besar bagi upaya dekarbonisasi yang pada akhirnya akan tercapai tujuan pembangunan berkelanjutan, yaitu dengan penyediaan energi bersih yang ramah lingkungan” ujar Dannif.
Pertamina agresif melakukan transisi energi sesuai rencana jangka panjangnya. Sebagai bagian dari praktik environment, social, and governance (ESG), Pertamina memiliki rasa tanggung jawab bersama masyarakat global untuk menghambat dampak dari perubahan iklim melalui upaya penurunan emisi GRK. Upaya agresif ini tampak dari target yang ditetapkan Pertamina, yaitu sebesar 17 persen portofolio energi bersih di tahun 2030.









Tinggalkan Balasan