
Jakarta, Petrominer – Pemerintah diminta untuk lebih memperhatikan industri penggiat peralatan musik dan audio video di dalam negeri. Hal ini didasarkan kepada kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai Rp 1.500 triliun, dan ekspor US$ 600 juta tahun 2025.
Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Penggiat Peralatan Audio Video Musik Indonesia (APAVMI), Hendry Kaihatu, di sela-sela penyelenggaraan temu pers PRO AVL Indonesia 2026, Jum’at (24/7).
“Ekosistem industri ini perlu mendapat atensi lebih besar agar mampu memberikan dampak lebih besar secara menyeluruh (holistik), sehingga pengaruhnya dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat di seluruh Indonesia,” ungkap Hendry.
Menurutnya, pendataan dari sektor industri musik secara komprehensif belum optimal. Pasalnya, masih rendahnya pasokan data dari pelaku usaha di bidang ini.
Contohnya Badan Pusat Statistik (BPS), yang mendasarkan perhitungannya masih terbatas pada penyelenggaraan penampilan konser musik, data para musikus, artis dan para pekerja seni. Padahal, dari mereka akan terkompilasi perhitungan jumlah tiket yang mampu dikelola.
Di sisi lain, data dari Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin menyebutkan bahwa pelaku usaha yang dihitung berdasarkan laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020, BPS, diperkirakan mencapai 16 juta orang.
Peluang Bisnis
Sebelumnya, dalam temu pers, CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, menyampaikan bahwa PRO AVL Indonesia 2026 akan diselenggarakan di NICE PIK 2, Tangerang, pada 28-31 Juli 2026. Pameran internasional untuk industri audio, visual, lighting, dan musik ini sudah memasuki penyelenggaraan tahun kelima.
“Pameran ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan para pelaku industri, produsen, distributor, integrator sistem, profesional, hingga komunitas kreatif dari dalam dan luar negeri untuk menampilkan inovasi dan teknologi terkini serta memperkuat kolaborasi dan peluang bisnis,” ujar Daud D. Salim.
Dia berharap pameran ini tidak hanya membuka peluang bisnis dan kolaborasi baru, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi yang dapat memperkuat pertumbuhan industri kreatif Indonesia. Dengan semakin banyaknya kolaborasi yang terjalin, kami optimistis industri ini akan terus berkembang dan semakin kompetitif, baik di pasar nasional maupun internasional.
PRO AVL Indonesia 2026 menghadirkan 60 brand internasional dari 12 negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, Italia, Denmark, Swedia, Austria, China, Spanyol, dan Indonesia. Keberagaman peserta ini mencerminkan tingginya antusiasme pelaku industri global dalam memperkenalkan inovasi terbaru di bidang audio, visual, pencahayaan, dan musik kepada pasar Indonesia dan Asia Tenggara. Pameran ini juga diselenggarakan secara bersamaan dengan pameran Music Indonesia Expo 2026.








Tinggalkan Balasan