Jakarta, Petrominer – Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Sorik Marapi unit 2 mulai beroperasi secara komersil. Hal ini ditandai dengan selesainya Unit Rated Capacity (URC) Test pada pembangkit berkapasitas 45 mega watt (MW) tersebut.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menyebutkan bahwa pembangkit listrik yang berlokasi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara ini berhasil menyelesaikan pembangunan proyek hingga siap beroperasi dalam waktu sekitar 18 bulan.

“Kita patut memberikan apresiasi kepada PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) sebagai pengembang PLTP, yang telah menunjukkan itikad baik, memperbaiki kinerja serta upayanya untuk tetap memastikan pelaksanaan pembangunan pembangkit memenuhi target COD yang telah ditetapkan sebelumnya dalam RUPTL,” ujar Dadan pada acara inagurasi PLTP Sorik Marapi unit 2 yang dilangsungkan secara virtual, Rabu (28/7).

Pandemi Covid-19 telah memengaruhi mobilisasi serta durasi pelaksanaan berbagai kegiatan di lapangan, sehingga Commercial Operation Date (COD) PLTP unit 2 ini mengalami keterlambatan dari target semula yang direncanakan Desember 2020. Keterlambatan juga terjadi karena penghentian oleh Kementerian ESDM sebagai konsekuensi dari kejadian fatality yang tidak diharapkan terjadi.

“Tentu saja dalam pelaksanaan kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh SMGP harus tetap memperhatikan aspek-aspek yang terkait pemenuhan kewajiban sebagai pemegang IPB antara lain aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lindungan Lingkungan (K3LL) dan tetap memenuhi kaidah keteknikan yang baik atau good and engineering practice,” ungkap Dadan.

SMGP sebagai salah satu pengembang panasbumi rezim Izin Panasbumi (IPB) telah membawa nuansa baru serta terobosan-terobosan, baik dalam pelaksanaan pengeboran, timeline pembangunan PLTP yang cepat, serta penggunaan teknologi terkini pembangkit panasbumi yaitu dengan pembangkit modular Screw Expander. Modular ini telah terbukti kemampuannya karena terpasang di Unit 1 dengan kapasitas 45 MW. PLTP Unit 1 beroperasi komersil pada Oktober 2019 lalu.

Kontribusi Naik

Proyek PLTP Sorik Marapi di Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Sorik-Marapi-Roburan-Sampuraga memiliki target pengembangan total 240 MW. Ini sesuai studi kelayakan yang telah disetujui oleh Menteri ESDM, serta kontrak jual beli listrik dengan PT PLN (Persero). Dalam upayanya untuk memenuhi target pengembangan tersebut, SMGP saat ini terus mekakukan pengeboran sumur pengembangan untuk supply PLTP Unit 3 dan 4.

Beroperasinya PLTP Unit 2 ini diharapkan bisa menaikan produksi dari 28 juta kWh listrik per bulan menjadi 50 juta kWh per bulan. Unit 2 ini juga dapat meningkatkan kontribusi berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan bonus produksi.

Pada tahun 2020, produksi listrik PLTP Sorik Marapi mencapai 334 juta kWh, yang artinya dengan tarif jual beli listrik sebesar 8,1 sen dolar per kWh dan dengan BPP Provinsi Sumatera Utara sebesar 10,18 sen dolar per kWh, maka terdapat penghematan sebesar kurang lebih Rp 100 miliar bagi PLN dari pembelian listrik panasbumi ini. Tarif jual beli listrik PLTP Sorik Marapi ini membuktikan bahwa harga listrik dari panasbumi juga kompetitif dengan tarif pembangkit EBT lain, yang rata-rata berada di bawah 10 sen dolar per kWh.

Tambahan COD Unit 2 berpotensi menambah PNBP sebesar Rp 10 miliar per tahun dari rencana kapasitas 45 MW. Tak hanya itu, bonus produksi dari PLTP Sorik Marapi yang langsung disetorkan ke Rekening Kas Umum Daerah Kabupaten Mandailing Natal pada tahun 2020 sebesar Rp 1,9 miliar, diproyeksikan naik pada tahun 2021 menjadi Rp 2,7 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here