Surakarta, Petrominer – Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Surakarta yang berlokasi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo merupakan pembangkit ramah lingkungan berbasis sampah terbesar di Jawa Tengah. Produksi listrik dari pembangkit ini mampu menjawab tantangan Indonesia dalam berkontribusi pengurangan emisi pada perhelatan G20.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menyatakan PLN siap menyerap listrik sebesar 5 megawatt (MW) yang dihasilkan PLTSa Putri Cempo. Komitmen ini merupakan bentuk dukungan PLN dalam mendukung perhelatan G20 di Indonesia dalam waktu dekat ini dan meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) untuk mencapai target net zero emissions tahun 2060.
“Pembangunan PLTSa Surakarta adalah salah satu yang paling urgent dan menjadi fokus perhatian kami dalam jangka pendek. Sebab, melalui proyek ini menjadi langkah dalam mencapai net zero emissions di tahun 2060 mendatang,” ujar Darmawan, Selasa (25/1).
PLTSa Putri Cempo akan menggunakan bahan bakar sampah yang dikelola oleh masyarakat. Memanfaatkan teknologi gasifikasi plasma, sampah rumah tangga yang menjadi masalah lingkungan bisa diolah menjadi bahan baku listrik yang ramah lingkungan.
Meskipun melalui proses pembakaran, penggunaan sampah sebagai bahan energi tidak akan mencemari lingkungan sekitar, karena gas yang dihasilkan dari proses ini bebas dari bahan kimia maupun kandungan lainnya yang berbahaya.
Menurut Darmawan, konstruksi proyek senilai Rp 330 miliar ini sudah mencapai 67,84 persen. Ditargetkan, pembangkit listrik tersebut sudah bisa beroperasi secara penuh pada Desember 2022.
PLN dan pengembang PLTSa Putri Cempo yaitu PT Solo Citra Metro Plasma Power sebelumnya telah menyepakati harga jual beli listrik sebesar 13,35 sen dolar AS per kwh atau setara Rp 1.800 per kWh. Sebagai pembeli, PLN siap menyerap listrik untuk disalurkan ke masyarakat luas.
“Kami dari sisi PLN all-out dalam mendukung sisi teknis dan kebutuhan-kebutuhan pembangunan PLTSa,” tegasnya.
Selain PLTSa Surakarta ini, PLN juga sudah berkontrak dengan dua PLTSa lainnya. Pertama, PLTSa Benowo di Surabaya yang sudah COD Maret tahun 2021 lalu. Kedua, PLTSa di Jakarta yaitu PLTSa Sunter juga sedang dalam tahap pemenuhan prasyarat kontrak.
Sementara itu, Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, menjelaskan bahwa melalui PLTSa ini, Pemkot Surakarta mampu mengolah 545 ton sampah per hari untuk dikirim ke PLTSa ini. Dengan menggunakan incinerator, energi panas yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah tersebut untuk menggerakan generator yang kemudian menghasilkan listrik.
Pemkot Surakarta juga memastikan dukungannya untuk mempercepat selesainya PLTSa ini dari sisi pengadaan lahan.
“Kami memberikan dukungan penuh dari sisi pengadaan lahan sehingga proyek ini bisa segera selesai. Sebab, PLTSa ini juga menjadi pilot project Pemkot agar juga bisa menciptakan lingkungan yang sehat khususnya di wilayah kota Surakarta,” ujar Gibran.
Tak hanya itu, keberadaan proyek ini juga turut mencetak lapangan kerja bagi warga sekitar. Pasalnya, dalam pembangunan konstruksi PLTSa terbesar di Jawa Tengah ini pengerjaannya melibatkan 100 persen tenaga kerja lokal.








Tinggalkan Balasan