Jakarta, Petrominer – Menyusul keberhasilan survei tim Ekspedisi Papua Terang (EPT) 2018, PT PLN (Persero) telah memilih beberapa metode yang dianggap tepat untuk melistriki ratusan desa di Papua dan Papua Barat. Metode tersebut kemudian dituangkan dalam Program “1000 Renewable Energy for Papua.”

Berdasarkan program terbaru ini, PLN telah menetapkan untuk memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya lokal untuk melistriki desa-desa di Provinsi Papua dan Papua Barat tersebut.

Lihat juga: Strategi PLN Listriki Desa-desa di Papua

Sebanyak 39 desa direncanakan menggunakan teknologi tabung listrik (Talis), 41 desa menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan Piko Hidro (PLTPH), 179 desa akan disambungkan ke sistem jaringan listrik (grid) PLN yang telah ada, 286 desa menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Biomassa (PLTBm), serta selebihnya 297 desa akan diterangi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Biomassa (PLTBm).

Desa pertama yang dilistriki adalah Kampung Kwaedamban, Distrik Bormeo, Pegunungan Bintang pada pertengahan Oktober 2018 lalu. Meski berlokasi di pedalaman Pegunungan Bintang, namun kampung ini memiliki prasyarat yang tepat untuk dialiri listrik dengan pembangkit Piko Hidro. Di antaranya, potensi aliran air bagus, kondisi keamanan kondusif, dan seluruh masyarakat mendukung serta membantu program pembangunannya.

Piko Hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas sangat kecil, yakni 1-100 KWH. Jauh di bawah cara kerjanya, air yang telah dibendung dialirkan ke dalam bak penampung yang berisi turbin sehingga aliran air akan memutar turbin tersebut. Selanjutnya turbin akan memutar generator yang pada akhirnya menghasilkan listrik.

Lihat juga: Tahun 2020, PLN Fokus Listriki 78.000 Rumah di Papua

Kepala Divisi Konstruksi Regional Maluku dan Papua PLN, Robert Aprianto Purba, menjelaskan bahwa keunggulan teknologi PLTPH adalah cocok digunakan di daerah terpencil.

“Piko Hidro hanya butuh ketinggian air 1-3 meter dan debit 30 liter per detik. Jadi cocok digunakan di daerah terpencil,” jelas Robert, Selasa (15/10).

Tidak hanya itu, biaya investasinya pun tergolong murah yakni sekitar Rp 30 juta per unit. Bisa murah karena biaya pemeliharaan yang minimum dan tidak memerlukan biaya bahan bakar.

Kepala Divisi Konstruksi Regional Maluku dan Papua PLN, Robert Aprianto Purba.

“Piko Hidro juga mudah dirakit dan dioperasikan serta bisa beroperasi selama 24 jam sesuai dengan debit air. Teknologi ini membuatnya cocok untuk diterapkan di daerah terpencil yang memiliki debit air yang sesuai,” paparnya.

Berkat PLTPH berdaya 1 KWH yang memanfaatkan aliran air sungai Wapra itu, 37 rumah di Kwaedamban kini bisa menikmati terang di waktu malam.

“Itulah manfaat dari survei Ekspedisi Papua Terang, memetakan sumber pembangkit yang cocok untuk setiap desa di Papua. Dengan demikian pembangkit yang kami bangun bisa sesuai dengan karakteristik alam setempat sehingga diharapkan dapat bertahan dalam jangka panjang,” tegas Robert.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here