Tim Ekspedisi Papua Terang 2018, yang telah memberi banyak masukan untuk program kelistrikan di wilayah Papua.

Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) telah menyiapkan berbagai strategi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi (RE) di Papua dan Papua Barat. Diperlukan program percepatan agar bisa mengejar ketertinggalan dari provinsi lainnya.

“Sebagai bagian dari NKRI, wilayah Papua harus terang. Jika nanti Papua sudah seluruhnya terang, berarti program Papua Terang sudah mengacu untuk menjadikan Indonesia Terang,” kata Executive Vice President Pengembangan PLN Regional Maluku-Papua, Eman Prijono Wasito Adi, Senin (7/10).

Menurut Eman, untuk merealisasikan tahun 2020 Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Papua menjadi 100 persen, PLN telah merencanakan lebih dari 899 desa terlistriki, dengan jumlah rumah sekitar 63.930 di Papua dan Papua Barat.

Hingga saat ini, di Papua dan Papua Barat sudah ada 111 sistem kelistrikan yang terdiri atas 16 sistem kelistrikan besar dengan kapasitas di atas 2 megawatt (MW) dan 95 sistem kelistrikan kecil dengan kapasitas di bawah 2 MW. Dengan sistem kelistrikan itu, terdapat daya mampu sebanyak 327,65 MW, sedangkan beban puncaknya sekitar 280,88 MW.

Sampai Agustus 2019, rasio elektrifikasi di kedua provinsi itu mencapai 57,93 persen, dengan rincian rasio elektrifikasi di Papua 48,3 persen dan Papua Barat 91,50 persen.

Untuk tahun 2020, PLN berencana meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat sampai 99,9 persen. Sementara rasio elektrifikasi di Indonesia per September 2019 sudah mencapai 98,86 persen.

Upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Papua, diakui Eman, masih terhambat oleh masalah geografis berupa lokasi desa yang berjauhan dan minimnya jalur tranportasi darat dan laut.

Menurutnya, untuk bisa mencapai kenaikan rasio elektrifikasi, PLN bekerja sama dengan sejumlah instansi lainnya seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan juga termasuk dalam bentuk CSR baik dari perusahaan serta partisipasi pemerintah daerah.

Kondisi Papua

Salah seorang voluntir dalam Program EPT tahun 2018 yang melakukan survei ke desa-desa, Iqra Hardianto Nur Ichsan, mengaku beruntung diikutsertakan dalam tim survei PLN karena bisa mengetahui kondisi di Papua yang sebenarnya.

“Selama ini saya hanya memperkirakan saja, tetapi setelah melihat kondisi yang sebenarnya, saya jadi paham kondisi yang terjadi di Papua,” ujar Iqra, alumni prodi rekayasa kehutanan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah melihat kondisi yang sebenarnya, dia pun memahami mengapa listrik belum bisa menyala secara maksimal di seluruh wilayah tersebut. Banyak kendala dan tantangan yang dihadapi dalam upaya memberikan fasilitas listrik bagi di sana.

Menurut Iqra, kondisi wilayah Papua masih sulit dijangkau dengan transportasi darat. Kebanyakan harus menggunakan jalur udara untuk menjangkau desa-desa di sana.

“Selain program listrik, hal lain yang sangat dibutuhkan dalam membangun wilayah Papua adalah jaringan transportasi. Jika jaringan transportasi bisa terbangun, maka program lainnya bisa dilaksanakan dengan mudah,” jelasnya.

EVP Pengembangan Regional Maluku-Papua PT PLN (Persero), Eman Prijono Warsito Adi, saat menjelaskan cara kerja tabung listrik (TALIS).

Tabung Listrik

Selain menggunakan potensi sumber pembangkit listrik yang ada di desa, PLN juga telah menyiapkan program penggunaan aliran listrik melalui tabung listrik (TALIS). Alat ini merupakan inovasi baru hasil kerja sama PLN dengan Universitas Indonesia (UI).

“Berdasarkan survei yang dilakukan melalui program Ekspedisi Papua Terang (EPT) tahun 2018, ada satu perangkat dalam rangka pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) yang ditawarkan, yakni Tabung Listrik (TALIS),” ujar Eman.

TALIS merupakan alat penyimpanan energi (energy storage) yang juga bisa berfungsi seperti power bank dan digunakan untuk melistriki rumah. Alat ini bisa menyimpan daya listrik yang nantinya digunakan masyarakat untuk menerangi rumah atau desa.

Sebuah tabung listrik yang berbobot sekitar 5 kilogram ini bisa menampung daya listrik sebesar 300 watt hour (Wh) hingga 1.000 Wh. Penggunaannya pun cukup mudah, pemilik hanya tinggal memilih sistem AC atau DC, kemudian dihubungkan dengan kabel lampu.

“Jika daya listriknya sudah habis, pemilik bisa men-chargenya di PLTS, mikrohidro, pikkohidro, PLTA ataupun pembangkit listrik biomassa. TALIS lebih hemat dan mudah digunakan,” jelas Eman.

Dengan menggunakan TALIS, masyarakat bisa berhemat dalam pemasangan jaringan listrik karena biaya pembelian dan pemasangan listrik dengan menggunakan TALIS sekitar Rp 3,5 juta. Sedangkan jika menggunakan jalur konvensional, tarifnya biasa lebih dari Rp 4 juta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here