
Pekanbaru, Petrominer — PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memperkuat upaya perlindungan keanekaragaman hayati melalui penerapan Biodiversity Action Plan di wilayah operasinya, termasuk kawasan Duri Steam Flood dan Hutan Talang. Strategi tersebut dipaparkan dalam Hutan.ID Fest 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan di Pekanbaru, Riau, pada 23–25 Oktober 2026 lalu.
Melalui stan edukatif PHR Zona Rokan, perusahaan memperkenalkan program pengelolaan lingkungan kepada masyarakat, pelajar, dan mahasiswa. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga hutan dan habitat satwa di tengah aktivitas operasional untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Manager HSE Environment Zona Rokan, R. Budi Soenarto Koesoemo, menjelaskan bahwa strategi perlindungan biodiversitas PHR mencakup restorasi lahan dan peningkatan tutupan vegetasi, penguatan kelembagaan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), perlindungan satwa, serta inventarisasi flora-fauna dan digitalisasi data keanekaragaman hayati.
Pada 2026, PHR menargetkan penanaman 1.325 bibit pohon di wilayah kerja (WK) Rokan. Hingga saat ini, realisasinya mencapai 1.025 bibit yang terdiri atas 25 jenis pohon kayu, peneduh, dan buah-buahan.
Dalam upaya pencegahan karhutla, PHR bekerja sama dengan Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Perusahaan juga menjalankan edukasi kepada masyarakat sekitar wilayah operasi untuk meningkatkan kesadaran mengenai perlindungan spesies dan habitat satwa.
Pemantauan keanekaragaman hayati dilakukan melalui pemasangan perekam bioakustik dan kamera jebak (camera trap) di kawasan Duri Steam Flood dan Hutan Talang. Perangkat tersebut digunakan untuk mengidentifikasi satwa melalui suara serta memantau mamalia nokturnal tanpa mengganggu aktivitasnya.
“Data ini berfungsi memperbarui baseline keanekaragaman hayati, mendeteksi dini potensi konflik manusia–satwa liar, dan menjadi acuan dalam pengambilan keputusan berbasis data,” ujar Budi.
PHR juga mengembangkan Biodiversity Information System untuk mengintegrasikan data penelitian dan inventarisasi flora-fauna secara digital. Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang mencakup rehabilitasi lahan, perlindungan satwa, digitalisasi data, dan pengembangan agroforestri.
Upaya konservasi tersebut turut didukung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis pemberdayaan masyarakat. Program ini meliputi peningkatan kapasitas produksi pertanian dan peternakan serta pengembangan sumber ekonomi baru, dengan tujuan mendukung pemulihan fungsi ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga sekitar.
Hutan Rumbai, Habitat Satwa Dilindungi
Salah satu kawasan yang menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan PHR adalah Hutan Rumbai, yang berbatasan langsung dengan Kompleks Perkantoran PHR di Rumbai, Pekanbaru. Hutan sekunder tua seluas 420 hektare ini terbagi menjadi kawasan barat, timur, dan koridor, serta berfungsi sebagai penyangga kehidupan bagi beragam flora dan fauna.
Berdasarkan identifikasi pada 2024, kawasan tersebut memiliki 366 jenis pohon, termasuk jenis langka seperti tembesu, kulim, jelutung, dan gaharu. Hutan Rumbai juga menjadi habitat bagi 177 spesies burung, dengan 22 spesies di antaranya termasuk satwa dilindungi, seperti sikep-madu Asia dan enggang cula.
Sejumlah satwa dilindungi lainnya juga ditemukan di kawasan tersebut, antara lain lutung kelabu, simpai, owa ungko, kukang, tapir, kucing emas, dan trenggiling. Untuk mendukung keberlangsungan habitatnya, PHR menjalankan sosialisasi perlindungan hutan dan menanam ratusan bibit pohon buah sebagai tambahan sumber pakan bagi primata.
“Untuk mendukung kelangsungan hidup satwa tersebut, PHR secara aktif melakukan program kepedulian lingkungan, seperti sosialisasi perlindungan hutan dan penanaman ratusan bibit pohon buah untuk menambah pasokan pakan primata,” ujar Budi.








Tinggalkan Balasan