Penandatangan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) untuk kebutuhan PLTG Tanjung Uncang, Batam, Jum’at (28/8). Ini merupakan bagian dari implementasi Keputusan Menteri ESDM No.91K tahun 2020.

Jakarta, Petrominer – Dalam rangka mewujudkan ketahanan energi listrik negeri dengan harga yang kompetititf, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Energi Listrik Batam (ELB) menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG). Penandatangan dilakukan oleh Direktur Komersial PGN Faris Aziz dan Direktur Utama ELB, Danny Praditya, Jum’at (28/8).

Direktur Komersial PGN Faris Aziz mengungkapkan bahwa perjanjian ini bagian dari realisasi implementasi Keputusan Menteri ESDM No.91K tahun 2020. ELB sebagai mitra strategis pemerintah menjalankan operasinya sebagai independent power producer (IPP), dan berkesempatan mendapatkan manfaat dari harga gas yang khusus berdasarkan Kepmen ESDM tersebut.

ELB merupakan anak usaha PT Medco Power Indonosia. IPP PLN Batam ini akan menyerap gas bumi dari PGN secara ramp up (meningkat). Serapan ini menyesuaikan dengan demand listrik dan diperkirakan mencapai 18 BBTUD, dengan estimasi pembangkit sebesar 80-100 MW untuk berkontribusi memenuhi ketersediaan listrik di wilayah Batam melalui PLTG Tanjung Uncang.

Menurut Fariz, perjanjian jual beli gas tersebut berlaku efektif hingga tahun 2024. Kesepakatan ini juga difokuskan untuk menopang proyek Combine Cycle Power Plant (CCPP) ELB yang saat ini tengah dibangun. Gas yang disalurkan bersumber dari PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang (PHE JM).

Dia berharap, manfaat dari Kepmen ESDM 91K/2020 dapat menunjang optimasi operasi ELB dan menurunkan Biaya Pokok Produksi, sehingga akan meningkatkan serapan volume gas dan ketersediaan kelistrikan di Batam semakin andal.

“Dari perjanjian ini, diperhitungkan ada peningkatan pada produksi listrik di ELB menjadi 80 – 100 MW. Sebelumnya hanya setara ±30 MW,” ungkap Fariz.

Sebelumnya, ELB adalah pelanggan eksisting PGN. Namun alokasi gasnya masih melalui PLN Batam. Kesepakatan ini menjadi peluang penting bagi PGN sebagai subholding gas dalam memperkuat layanan gas bumi pada sektor kelistrikan.

Faris mengungkapkan, alokasi gas bumi untuk pembangkit listrik sesuai Kepmen ESDM 91K/2020 sebesar ±315 BBTUD, dengan estimasi kapasitas pembangkit ±1250 MW. Volume dan kapasitas tersebut untuk mendukung pembangkit listrik di Batam, Sumatera, dan Jawa Bagian Barat. Dengan adanya penerapan harga baru yang lebih murah, tentunya diharapkan pemakaian gas di pembangkit-pembangkit listrik juga dapat meningkat.

“PGN membuka kesempatan yang besar bagi semua sektor kelistrikan untuk menggunakan gas bumi agar benefitnya dapat dirasakan secara nyata. Khususnya efisiensi pembiayaan, dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tambahan pasokan listrik, seiring dengan konsumsi listrik nasional yang terus meningkat,” tegasnya.

PGN sebagai subholding gas dan bagian dari Holding PT Pertamina (Persero) berkomitmen menjadikan sektor listrik sebagai salah satu dari program prioritas PGN. Dari segi volume, sektor kelistrikan memiliki porsi penyerapan gas bumi paling besar. Jumlah ini sepadan dengan perannya dalam menopang kebutuhan energi di berbagai segmen masyarakat.

Oleh karena itu, PGN juga senantiasa termotivasi untuk melakukan pengembangan infratruktur dan meningkatkan kualitas layanan gas bumi agar dapat menjamin kehandalan energi kelistrikan seluruh wilayah di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here