Central Processing Plant di Jabung, Jambi, yang dioperasikan oleh PetroChina.

Jakarta, Petrominer – Mulai stabilnya harga minyak dunia menjadi peluang menarik bagi PetroChina International Companies in Indonesia (PetroChina) untuk menggenjot produksi. Ini juga yang mendorong perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal negeri Cina itu menambah anggaran tahun ini sampai 39,6 persen dibandingkan realisasi tahun 2017 lalu.

Menurut Presiden PetroChina Gong Bencai, pihaknya telah menyiapkan capital expenditur (capex) sebesar US$ 56,9 juta dan operational expenditure (opex) sebesar US$ 286,3 juta untuk kegiatannya sepanjang tahun 2018. Nilai ini meningkat dibandingkan realisasi capex tahun 2017 yang sebesar US$ 43,9 juta dan opex US$ 201,9 juta.

“Angka tersebut menunjukan komitmen kami untuk memperluas bisnis di Indonesia. Kami siap untuk semua peluang, baik itu onshore maupun offshore,” ujar Gong kepada para wartawan, Rabu (10/1).

Dengan dana sebesar itu, anak perusahaan China National Petroleum Corporation (CNPC) yang berkantor pusat di Beijing ini menargetkan produksi migas hingga 100 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD). Target tersebut meningkat dibandingkan realisasi tahun lalu yang hanya mencapai 95 ribu BOEPD.

Saat ini, PetroChina merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas yang mengoperasikan Blok Jabung dan Blok Bangko, keduanya di Jambi. Selain itu, PetroChina juga bermitra dengan Pertamina Hulu Energi melalui Joint Operating Body (JOB) Pertamina-PetroChina Eas Java (JOB PPEJ) dalam pengelolaan blok Tuban di Jawa Timur dan JOB Pertamina PetroChina Salawati (JOB PPS) di Blok Kepala Burung-Salawati, Papua Barat.

Selain mengoperasikan Blok Jabung dan Blok Bangko, PetroChina terlibat di lima Wilayah Kerja (WK) lain di Indonesia, yakni Blok West Jambi II, Blok Selat Panjang, Blok South Iambi B, Blok Madura dan Blok Kepala Burung-Salawati Basin.

Kontribusi terbesar produksi migas berasal dari Blok Jabung, di mana PetroChina sebagai operator bermitra dengan Petronas dan Pertamina Hulu Energi. Tahun 2017, produksi harian Blok Jabung mencapai 54.497 BOEPD. Sementara dari Blok Tuban diperoleh 10 ribu BOEPD.

Tahun ini, PetroChina juga akan mulai produksi dari blok Bangko, yang sempat tertunda pengembangannya lantaran lokasinya terpencil. Targetnya akan ada empat sumur pengembangan yang akan dibor di blok tersebut tahun ini.

Untuk menopang target produksi tahun 2018, PetroChina juga akan melakukan pengeboran dan komplesi 16 sumur baru, 17 kegiatan kerja ulang (workover) dan 123 kegaiatan perawatan sumur. Target lainnya adalah mengembangkan lapangan baru yakni Lapangan Sabar dengan target produksi gas sebesar 17 MMSCFD dan Lapangan Panen dengan target produksi minyak 3 ribu BOPD.

“Kedua dua lapangan baru yang lokasinya terpencil ini diharapkan bisa menambah produksi tahun ini. Inilah langkah-langkah kami untuk tingkatkan produksi tahun ini,” ujar Gong.

Dia juga menjelaskan bahwa PetroChina mulai berbisnis di Indonesia sejak tahun 2002 dengan mengakuisisi Devon Energy, perusahaan migas asal Amerika Serikat. Sejak itu sudah banyak kontribusi yang diberikan. Salah satunya adalah kontribusi berupa pajak mencapai lebih dari US$ 3 miliar. Ada juga dana bagi hasil yang diberikan kepada Pemerintah Pusat lebih dari US$ 9,5 miliar, dan investasi lebih dari US$ 5 miliar.

CPP minyak di Lapangan Karang Mudi, Tuban, Jawa Timur, yang dioperasikan JOB Pertamina PetroChina East Java.

Gross Split

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa selain menyiapkan dana untuk pengembangan lapangan migas yang sedang dioperasikan, perusahaan induknya juga sudah menyiapkan sejumlah dana agar PetroChina bisa mengakuisisi atau memperpanjang kontrak blok-blok migas di Indonesia. Salah satu blok yang ingin diperpanjang adalah Blok Jabung, yang akan berakhir masa kontraknya tahun 2023 mendatang.

Untuk perpanjangan kontrak di Blok Jabung, PetroChina sudah mengajukan penawaran kepada Pemerintah. Perusahaan asal Cina juga menyatakan siap menggunakan pola kerja sama gross split. Namun pemerintah belum merespon permohonan tersebut.

Menurut Gong, perusahaannya tidak masalah dengan adanya skema gross split yang menjadi kebijakan baru pemerintah saat ini. “Gross split ini fleksibel bagi perusahaan kami dalam penggunaan anggaran, dan ini lebih efisien. Jadi kami bisa menyimpan uang,” tegasnya.

Sebagai informasi, skema perpajakan PSC gross split telah dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2017. Di mana sekarang tidak ada pengenaan pajak dari tahap eksplorasi hingga tahap pertama produksi, loss carry forward hingga 10 tahun, depresiasi dipercepat dan pengenaan indirect tax pada masa produksi diperhitungkan di dalam keekonomian lapangan yang akan dikompensasi melalui split adjusment.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here