Uji coba penggunaan Bioavtur J2.4 pada pesawat CN235 FTB.

Jakarta, Petrominer – Pertamina kembali mencetak milestone baru dalam industri aviasi nasional. Unit kilang Pertamina sukses produksi ‘Bioavtur J2.4’. Ini merupakan sebuah inovasi energi bersih berbasis bahan bakar nabati (BBN) untuk moda transportasi udara.

Uji coba penggunaan Bioavtur J2.4 pun telah dilakukan pada pesawat CN235 FTB. Pelaksanaan uji coba ini menjadi penanda keunggulan BBN yang diproduksi Kilang Pertamina Internasional unit Cilacap tersebut.

Corporate Secretary Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, Ifki Sukarya, menjelaskan bahwa Pertamina telah merintis penelitian dan pengembangan Bioavtur melalui Unit Kilang Dumai dan Cilacap pada tahun 2014. Melalui tahap pengembangan yang komprehensif, Bioavtur J2.4 terbukti menunjukkan performa yang setara dengan bahan bakar avtur fosil.

“Performa Bioavtur sudah optimal, di mana perbedaan kinerjanya hanya 0,2 – 0,6 persen dari kinerja avtur fosil. Bioavtur J2.4 mengandung nabati 2,4 persen. Ini merupakan pencapaian maksimal dengan teknologi katalis yang ada,” ujar Ifki, Rabu (8/9).

Dia menegaskan, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 ‘Energi Bersih dan Terjangkau’, Bioavtur J2.4 produksi Pertamina berkontribusi dalam upaya penurunan emisi karbon. Tak hanya SDGs, di level nasional pengembangan Bioavtur juga selaras dengan target Indonesia melalui Kementerian ESDM dalam mencapai bauran energi terbarukan sebesar 23 persen tahun 2025 sesuai Kebijakan Energi Nasional.

Kontribusi Pertamina dalam mengembangkan Bioavtur J2.4 dilakukan terpadu sejak tahun 2014 yang meliputi dua tahap penting. Tahap awal pengembangan dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional unit Dumai melalui Distillate Hydrotreating Unit (DHDT). Tahap pertama ditandai dengan proses ‘Hydrodecarboxylation’, di mana target awal adalah produksi diesel biohidrokarbon dan bioavtur dalam skala laboratorium.

Sementara, tahap kedua ditandai dengan proses ‘Hydrodeoxygenation’, di mana Pertamina telah berhasil memproduksi diesel biohidrokarbon yang lebih efisien.

“Puncaknya, tahun 2020, unit Kilang Dumai berhasil memproduksi Diesel biohidrokarbon D-100 yang 100 persen berasal dari bahan baku nabati yaitu Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO),” jelas Ifki.

RBDPO adalah minyak kelapa sawit yang sudah melalui proses penyulingan untuk menghilangkan asam lemak bebas serta penjernihan untuk menghilangkan warna dan bau. Tahap awal tersebut menjadi langkah penting pengembangan green product termasuk green diesel dan bioavtur.

Dia menegaskan, Kilang Pertamina Internasional unit Cilacap didapuk memiliki kapasitas teknis untuk mengembangkan BioAvtur nasional. Hal tersebut tak lepas dari portfolio bisnis unit kilang Cilacap yang merupakan produsen BBM jenis Aviaton Turbine terbesar di Indonesia dengan angka produksi tertinggi 1.852 ribu barel sepanjang tahun 2020.

Di Unit Kilang Cilacap, pengembangan Bioavtur dilakukan di dalam Treated Distillate Hydro Treating (TDHT). Katalis merah putih untuk Bioavtur diproduksi di fasilitas milik Clariant Kujang Catalyst di Cikampek dengan supervisi langsung dari team RTI (Research Technology and Innovation) Pertamina.

“Melalui Unit Kilang Cilacap, Bioavtur dihasilkan melalui bahan baku minyak inti kelapa sawit atau Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) dengan avtur fosil,” jelas Ifki.

Menurutnya, kapasitas produksi Bioavtur di Unit Kilang Cilacap mencapat 8 ribu barrel per hari dan akan terus ditingkatkan dengan melihat kebutuhan pasar, mulai 2023 nanti.

Sinergi pengembangan Bioavtur J.24 Pertamina ini juga turut melibatkan peran penting stakeholders termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, serta Institut Teknologi Bandung. Pengembangan Bioavtur J.24 Pertamina selaras dengan roadmap energi bersih Kementerian ESDM yang tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No 12 Tahun 2015 terkait pencampuran bahan bakar nabati hingga 5 persen pada tahun 2025, termasuk untuk moda transportasi udara.

Dengan dukungan pendanaan dari BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) yang diberikan kepada Tim Uji Bioavtur ITB serta bantuan sarana pengetesan dan engine dari Garuda Maintenance Facilities (GMF), lima kali uji kinerja Bioavtur dalam engine test cell berhasil dilakukan dalam dua periode pengujian.

Dengan tetap dikoordinasi oleh Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, stakeholder lainnya bergabung dalam tim yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang menawarkan uji terbang menggunakan pesawat CN 235 FTB. Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA) sebagai pemberi izin uji terbang, serta Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU)-Kemenhub sebagai pihak yang memegang otoritas untuk penggunaan bioavtur pada pesawat komersial juga memberikan dukungannya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here