Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M.R. Karliansyah M.S. bersama dengan GM RU II Otto Gerentaka menjadi nara sumber pada acara "Sarasehan Bersama Mitra Binaan dan Stakeholder" yang diadakan di Pertamina RU II Sei Pakning, Bengkalis, Riau, Rabu (18/10).

Bengkalis, Petrominer – PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) II Production Sei Pakning terus mendorong keterlibatan masyarakat melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Ini dilakukan agar musibah Karhutla seluas enam hektar di Sungai (Sei) Pakning tahun 2012 – 2014 tidak terulang kembali.

Isu Karhutla menjadi perhatian dunia sejak beberapa tahun belakangan. Indonesia, yang diharapkan menjadi produsen karbon dunia, dihadapkan pada permasalahan Karhutla di beberapa wilayah seperti Sumatera, termasuk di wilayah Sei Pakning, Bengkalis, Riau.

Menurut General Manager PT Pertamina RU II, Otto Gerentaka, faktor alam dan keterbatasan sarana dan prasarana pemadaman api di wilayah Sei Pakning, mengakibatkan rawannya terjadi Karhutla. Sebagai korporasi yang beroperasi di sekitarnya, Pertamina menilai masyarakat membutuhkan bantuan untuk mengatasi tinggi potensi kebakaran.

“Masyarakat dengan keterbatasan kapasitas tidak bisa berbuat banyak melihat lahan atau hutan di sekitarnya dilanda kebakaran. Menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, kami hadir untuk membantu masyarakat sebagai wujud tanggung jawab sosial Pertamina dengan melibatkan seluruh komponen,” katanya dalam Sarasehan Bersama Mitra Binaan dan Stakeholders, Rabu (18/10).

Sarasehan yang diselenggarakan di Kompleks RU II Sei Panking tersebut, membahas topik “Pencegahan Karhutla dan Pemberdayaan Sumber Daya Ekonomi Berkelanjutan”. Hadir sebagai pembicara antara lain Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan M.R Karliansyah.

Dalam diskusi tersebut, Karliansyah melihat upaya Pertamina Production Sei Pakning menggandeng partisipasi masyarakat dalam mitigasi Karhutla bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam menangani kebakaran hutan dan lahan. Kuncinya adalah kolaborasi partisipatif masyarakat, perusahaan dan pemerintah setempat dalam mencari solusi pengurangan resiko kebakaran melalui Program Mitigasi Karhutla Berbasis Masyarakat, dengan mengembangkan sumber daya ekonomi masyarakat.

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M.R. Karliansyah M.S. bersama dengan SVP HSSE Pertamina Lelin Eprianto dan GM RU II Pertamina Otto Gerentaka melakukan secara simbolik panen nanas yang dikelola oleh mitra binaa Pertamina RU II Sei Pakning di Kampung Jawa, Bengkalis, Riau.

Di Sei Pakning, sumber daya ekonomi yang digarap berupa pengembangan kawasan pertanian Nanas terintegrasi, di lahan bekas kebakaran.

Sejak tahun 2015, menurut Otto Gerantaka, Pertamina RU II Production Sei Pakning mendorong upaya pencegahan Karhutla di wilayah Bukit Batu melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Selama dua tahun terakhir, Pertamina melakukan pendampingan kelompok tani melalui pemberdayaan masyarakat dengan mengalihfungsi lahan semak belukar yang merupakan bekas area kebakaran lahan dan hutan untuk ditanami nanas. Upaya pencegahan kebakaran hutan dengan alihfungsi teresebut semakin maksimal, karena masyarakat juga diberikan ketrampilan pengolahan makanan dari bahan baku Nanas.

Kini, masyarakat menjadi lebih termotivasi untuk mengalihfungsi lahan semak menjadi pertanian nanas karena adanya nilai tambah yang didapatkan. Selain itu, upaya ini juga menjadi insentif tambahan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) Kelurahan Sei Pakning untuk semakin rutin menggelar patroli api.

GM RU II Otto Gerentaka menjelaskan penanganan kebakaran lahan gambut kepada Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M.R. Karliansyah M.S bersama dengan SVP HSSE Pertamina Lelin Aprilianto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here